LITERASI DIGITAL DALAM MENANGKAL RADIKALISME, TERORISME DAN SPARATISME

Para pelaku teroris saat ini telah terbukti memanfaatkan media online dalam melakukan  kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.



Berkembangnya teknologi digital dan akses informasi menjadi tantangan sekaligus peluang. Dengan penggunaan internet yang terbilang tinggi, pihak pemerintah Indonesia mesti memikirkan cara terbaik dalam menanggulangi berita atau informasi hoaks, ujaran kebencian, dan perilaku intoleran serta penyebaran faham radikal yang diantaranya bisa penyebab timbulnya gerakan terorisme dan sparatisme. 

Para pelaku teroris saat ini telah terbukti memanfaatkan media online dalam melakukan  kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.

Kabid Agama Sosial dan Budaya Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (BNPT-FKPT) perwakilan Jawa Timur Muhammad arifin, M.Ag dalam acara webimar yang diselenggarakan oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi Repubik Indonesia yang bekerjasama dengan Komnas Pendidikan Jawa Timur di 34 kab/Kota se jatim dalam program literasi digital menyampaikan akan pentingnya bagi para pengguna internet untuk selalu waspada akan penyebaran faham radikal yang berujung pada gerakan teroris. 

Dalam sisi positif media digital menjadi peluang, seperti meningkatnya keuntungan dalam bisnis e-commerce, lahirnya lapangan pekerjaan baru berbasis media digital, dan pengembangan kemampuan literasi tanpa menegasikan teks berbasis cetak. Namun disisi lain kalau kurang kritis bisa menjadi mesin menyebar berita hoaks yang sangat luarbiasa berujung pada ujaran kebencian, dan perilaku intoleran serta bersifat ekstrimisme ditengah kehidupan bermasyarakat, beragama dan bernegara.

Kepada para peserta webinar Muhammad Arifin yang juga menjabat sebagai Kabiro P4GN dan Pancasila Komnas Pendikan Provinsi Jawa Timur ini menyampaikan habwa ancaman nyata yang sedang dihadapi terkait dengan aksi terorisme ialah pemanfaatan sarana media sosial sebagai alat untuk propaganda. Penyebaran paham radikal tersebut harus dicegah agar nantinya masyarakat tidak menjadi korban.

Guna menekan serta meminimalisir perkembangan para pelaku teror yang memanfaatkan media online dan berdampak pada  keresahan ditengah  masyarakat, maka perlu acara webinar sepereti sekarang ini untuk terus ditingkatkan. Oleh karena itu upaya kementrian komunikasi dan informasi bekerjasama dengan komnasdik seperti ini harus sambut baik dan didukung dengan wujud terus mengisi konten posif untuk melawankon konten negatif.





Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.