DIBALIK MAKNA KURBAN.

 

Pengorbanan yang tiada tara disepanjang sejarah manusia, yakni pengorbanan seorang hamba kepada Tuhanya, dengan menyembeli putranya, demi suatu pengabdian yang hakiki tanpa ada kapalsuan sedikitpun. Itulah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

Oleh   M.Khoirul Anam

Lembaga Dakwah Khusus Muhammadiyah Jatim


Lensa Dakwah.com_ kita umat islam  akan merayakan hari raya Iedul Adha, Iedul Qurban atau hari raya Besar. Sebutan-sebutan ini  bukan sekedar slogan kata-kata, namun kata-kata tersebut punya  makna yang sangat mendalam, disini kita diingatkan oleh suatu kisah tentang perjuangan dan pengorbanan yang tiada tara disepanjang sejarah manusia, yakni pengorbanan seorang hamba kepada Tuhanya, dengan menyembeli putranya, demi suatu pengabdian yang hakiki tanpa ada kapalsuan sedikitpun. Itulah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.


Nabi Ibrahim AS adalah manusia yang luar biasa, ia bergelar kholilullah yakni kekasih Allah, Abu Anbiya’ wal mursalin yakni bapaknya para nabi dan rasul. Perjalanan hidupnya penuh perjuangan, pengorbanan dan ujian. Mulai remaja di bakar hidup-hidup, perintah khitan du usia senja. Dan ujian terberat adalah menyembeli putranya.  


Ya menyembelih putranya, yang belum lama menghiasi kebahagiaan hatinya. Anak merupakan buah hati, belahan jantung, pelanjut cerita, penyambung sejarah dalam kehidupanya, tetapi harus hilang untuk selamanya dan hidupnya berakhir di ujung pedangnya sendiri. Dua pilihan yang teramat berat bagi Nabi Ibrahim. Beliau al hanif yang mampu memilih dan memilah mana kepentingan untuk dirinya dan mana untuk kepentingan Allah SWT Tuhanya.  

sungguh pilihan yang sama-sama berat. Perintha  Allah ataukah cinta anak. Dan sejarah telah mencatat, bahwa Nabi Ibrahim telah lulus dari ujian yang amat berat tersebut. Kisahnya bisa kita baca dalam surat Ash-Shoffat : 100-102.

“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. “ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".

Apabila kita renungkan, bagaimana seandainya perintah itu datang kepada kita. Rasanya tak terbayangkan oleh kita, jangankan harus menyembelih anak, anak tergores benda tajam sedikit saja. Kita sebagai orang tua sudah tidak tega. Tetapi keluarga Ibrahim begitu tulus dan Ikhlas menerima ketetapan Allah yang diluar kemampuan manusia biasa, dan oleh Nabi Ibrahim bisa melaksanakannya. Ternyata Keluarga Ibrahim mampu memerankan skenario Tuhan dengan baik dan sempurna, walaupun dalam pelaksanaanya, Iblis dan tentaranya berusaha menggagalkan adegan dramatik tersebut.

Pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarganya kemudian dalam agama Islam, dijadikan  sebagai syariat Islam. Dengan menyembeli hewan qurban mulai tanggal 10 – 13 Dzulhijjah.

Dalam berqurban yang perlu kita ingat adalah. Niat dalam berqurban adalah untuk mencapai keridloaan Allah. “ Dan daging qurban serta darahnya sekali-kali tidak akan mencapai keridloaan Allah, tetapi taqwa diantara kamu sekalianlah yang akan mencapainya “

Kisah pengorbanan keluarga Ibrahim, setidaknya setahun sekali diangkat kembali sebagi napak tilas keimanan dan bahan renungan kita semua. Sejauh mana bhakti yang kita persembahkan dalam hidup ini. Apa yang pernah kita korbankan dalam rangka pengabdian diri kepada Tuhan, kepada agama Islam, ataukah sebaliknya Islam yang dikorbankan demi kepentingan pribadi atau kelompok ? 

Betapa Nabi Ibrahim AS rela mengorbankan putranya demi perintah Allah, baginya Ismail adalah sesuatu yang kecil dan beliau korbankan demi sesuatu yang besar yakni Cintanya kepada Allah.

Dalam kehidupan, betapa manusia sering mengorbankan sesuatu yang besar demi sesuatu yang kecil, mengorbankan persaudaraan demi harga diri, mengorbankan islam demi kekuasaan, menggadaikan Iman demi sepeser rupiah. Membeli hukum demi koleganya. 

Tahukah engkau, kalau ingin merasakan manisnya iman dan cintanya Allah, maka relakan diri kita berkorban demi agamanya, dan demi sunnah rasulnya. Rasulullah sendiri pernah tumitnya berdarah, gigi serinya rontok dan kepalanya terluka. Umar Ra ditusuk di mihrab dan tubuhnya dirobek dengan belati, darah Usman Ra mengalir di mushaf yang dibacanya karena pedang pembrontak. Ali Ra pernah di pukul pelipisnya dengan pedang oleh khawarij hingga darah dikepalanya mengalir. Mereka semua berkorban demi Islam dan Tuhanya.

Di hari raya Iedul Adha, kita di anjurkan berqurban dengan mengalirkan darah hewan ternak yang sembelih, sebagai sarana taqorrub ilallah, 

Syiar Islam dan napak tilas pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarganya. kesediaan berqurban menjadi tolak ukur nilai bobot dan kadar keimanan seseorang. Iman bukan sekedar ucapan dan pengakuan formal, tetapi tindakan nyata, perjuangan dan pengorbanan. Muhammad Quth dalam bukunya “ Jalan yang terbentang dihadapan kita bukanlah permadani yang bertabur bunga. Kita harus memberikan pengorbanan yang banyak dan besar agar dunia yakin terhadap kebaikan dan kebenaran Islam yang Hakiki.


lensadakwah.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.