JANGAN TAKUT,... APALAGI PANIK

Kepanikan tidak ada di mana pun kecuali dalam pikiran. Ingatlah, bahwa kepanikan yang berlebihan justru melahirkan takdir baru yang lebih mengerihkan.


Oleh: Khoirul Anam 

Wakil Seketaris lembaga dakwah khusus (LDK) Muhammadiyah Jatim 

Kematian datang beruntun, berbarengan. virus corona melonjak lagi. banyak yang terpapar dan banyak yang meninggal dunia. Beritanya mendominasi jagad media sosial. Sebaran beritanya sangat cepat dan hal ini membuat takut dan panik masyarakat. banyak sekali diantara kita merasa panik, cemas dan gelisah menghadapi wabah penyakit yang sedang menjangkit negeri kita. 

Di WhatsApp hampir tiap jam mendapat informasi kematian. ada saudara, teman, tetangga, pimpinan persyarikatan, pemangku pondok pesantren dan lain-lain. Corong masjid atau mushollah juga hampir tiap hari mengabarkan berita duka tersebut. Sirine ambulance yang berseliweran di jalan-jalan membuat detak jantung berdetak dan berdebar. Ambulance datang dari rumah sakit menjemput pasien di rumah, ada juga dari rumah sakit menuju tempat pemakaman. 

Saudarku,  kematian sudah menjadi sunnatullah, ada kelahiran juga ada kematian.  Kematian akan datang kepada siapa saja. “ Maka apabilah telah datang waktunya mereka tidak akan dapat mengundurkanya barang sesaat pun dan tidak pula memajukanya “ QS: Al-‘Arof : 34 ), Segala sesuatu itu ada dan akan terjadi dengan ketentuan Qodlo’ dan qodarnya. Termasuk datangnya musibah, jodoh, penyakit, kematian dan segalah sesuatu yang terjadi didunia ini semua sudah menjadi ketentuan dan ketetapan Allah SWT. Jangan takut dan cemas. mari kita tetap berdoa dan  berikhtiar secara maximal  untuk mendapatkan perlindungan yang terbaik.

Tidak bisa dipungkiri di masa Pandemi ini sungguh berita kematian membuat hati dan pikiran gelisah, cemas, panik dan takut. Bagaimana tidak. Hampir tiap hari mendengar dan menyaksikan kematian dan berita-berintanya. bahkan ada satu keluarga yang hanya berselang dalam hitungan jam dan hari. Satu keluarga ada yang tersisa 1 orang, sementara yang lain sudah meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan pasti akan kembali kepadanya. 

Tentang panik, khawatir dan sejenisnya. baiknya kita renungkan kisah berikut ini. Pada zaman dahulu, hiduplah seorang waliyullah (orang sholeh). Ia memiliki kelebihan, antara lain, bisa melihat dan berbicara dengan sesuatu yang tak tampak mata manusia biasa. Orang saleh itu kemudian bertemu dengan rombongan wabah penyakit (kalau sekarang bisa disebut virus) yang sedang menuju suatu tempat.

Sang wali pun bertanya kepada mereka, "Kalian wabah penyakit (virus) akan ke mana?"

"Kami akan ke Damaskus karena melaksanakan perintah Allah. Kami ditugaskan untuk memberi ujian dan cobaan kepada umat manusia di kota itu dengan cara menjangkiti mereka," jawab wabah.

"Akan berapa lama kalian di sana?" tanya wali itu.

"Dua tahun."

"Berapa banyak yang akan sakit dan meninggal?"

"Seribu orang," jawab wabah sambil berlalu meninggalkannya.

Selang beberapa waktu kemudian, tersiarlah kabar. Penduduk Damaskus panik lantaran kedatangan wabah. Di antara mereka, ada yang terpapar dan jatuh sakit. Tak sedikit pula yang meninggal dunia.

Dua tahun kemudian, orang sholehh itu kembali berjumpa dengan gerombolan wabah yang sama. Ia pun menanyakan tentang bagaimana sebaran penyakit yang mereka tularkan di Kota Damaskus. Selain itu, ia juga hendak meminta penjelasan, berapa dari penduduk kota tersebut yang sakit dan wafat.

Para wabah pun menjawab, jumlah orang yang meninggal karena penyakit sebanyak 50 ribu orang.

Orang sholeh ini pun tercengang. Ia merasa heran karena jumlah korban jiwa ternyata jauh lebih banyak daripada keterangan awal yang mereka sampaikan sebelumnya, yakni seribu orang.

"Ya benar," kata wabah, "Jumlah yang meninggal karena penyakit itu seribu orang. Namun, puluhan ribu orang lainnya itu wafat karena ketakutan melihat penyakit. Mereka takut berlebihan saat melihat orang sakit, orang mati, sehingga hati mereka jatuh pada kepanikan. Akhirnya, mereka pun meninggal dunia," kata wabah menuturkan nasib 49 ribu orang yang gugur di Damaskus.

Saudaraku, pada hakikatnya manusia adalah sosok makhluk yang sering dilanda kecemasan, ketika seseorang dihadapkan oleh suatu masalah yang menghantuinya, sedangkan dirinya belum siap untuk menghadapinya. Dan saat ini ketika dilanda rasa cemas, panik tentang kematian yang tiada henti tiap hari adalah hal yang normal. Akan tetapi, kalau kita mensikapi dengan berlebihan akan  menurunkan imunitas tubuh dan tentunya akan mendatangkan kemaudhorotan yang lebih besar. 

Rasa khawatir dan panik yang berlebihan akan mendera jasmani dan rohani kita. dalam situasi  krisis seperti ini memang sangat mudah hati menguasai pikiran kita agar khawatir dan panik. Yang perlu diwaspadai adalah pikiran-pikiran negatif dan pikiran yang tidak masuk akal. Khawatir sering kali memberi bayangan besar pada hal kecil.  Oleh karena itu, kita harus melawan rasa khawatir itu.   Kekhawatiran dan kepanikan hanya menguras energi dan menambah rasa takut, disamping itu juga kecemasan akan berdampak tidak baik bagi  sistem kekebalan tubuh.



Menghadapi pandemi yang terus memakan korban ini. singkirkan rasa khawatir, hilangkan ketakutan. Hancurkan kepanikan. Mari bersama kita tetap waspada dan siaga. jaga diri dan keluarga. dengan adanya virus ini mau tidak mau kita harus membersamainya dengan kekuatan doa, ketekunan ibadah dan tetap mematuhi protokol kesehatan. 

Jadi, terhadap wabah ini. Jangan takut dan jangan panik, tetap waspada. kuatkan doa, kencangkan ibadah dan maximalkan ikhtiar. ingatt!! “ kepanikan adalah separuh penyakit dan ketenangan adalah separuh obat. “wallahu ‘alamu bish-showab”.

lensadakwah.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.