MENGINTIP LANGKAH AHLI SURGA

Barang siapa bersuci dirumahnya lalu berjalan menuju salah satu rumah Allah (Masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnnya akan meninggikan derajatnya. (HR Mulim)


Ust. Muchamad Arifin
 Ketua lembaga dakwah khusus (LDK) Muhammadiyah Jawa Timur

Sebagai seorang Muslim sudah sepatutnya bangga dengan Hadits tersebut di atas. Karena hanya dengan melangkahkan kaki menuju masjid, maka Allah akan mengampuni dosanya dan meninggikan derajatnya. Namun kenyataannya tidak sedikit hamba Allah yang bisa pergi kemana-mana tetapi  ke masjid begitu berat. Mudah-mudahan pembaca tulisan ini bukan orang-orang yang berat melangkahkan kakinya menuju masjid.

Sebagai inspirasi dan motivasi bagi pembaca, ijinkan saya menyampaikan salah satu cerita shahabat Nabi yang bernama Sya'ban. 

Sya’ban merupakan salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang selalu aktif shalat fardhu berjamaah bersama dengan Rasulullah. Pada suatu Shubuh, Sya’ban tidak hadir.

Rasulullah bertanya, ke manakah Sya’ban? Apakah ia sakit? “Sahabat tidak ada yang tahu. Ketika Rasulullah SAW bertanya, adakah yang tahu rumah Sya’ban, salah seorang sahabat mengacunkan tangannya. Akhirnya Rasulullah minta diantar ke rumah Sya’ban. Beliau datang ke rumah Sya’ban bersama dengan para sahabat yang lain.

Namun ternyata rumah Sya’ban sangat jauh dari Masjid Nabawi. Satu jam, dua jam, tiga jam, hingga akhirnya 3,5 jam, barulah Rasulullah SAW tiba di rumah Sya’ban. “Subhanallah, berarti setiap hari Sya’ban memerlukan waktu tujuh jam untuk pulang-pergi dari rumah ke masjid.

Sesampainya Rasulullah di rumah Sya’ban, beliau ditemui oleh istri Sya’ban. Ketika Rasulullah SAW menanyakan di manakah Sya’ban, wanita itu mengatakan bahwa Sya’ban telah wafat tadi malam.

Akhirnya Rasulullah SAW dan para sahabat mengurus jenazah Sya’ban hingga selesai dikuburkan. Ketika Rasulullah SAW dan para sahabat hendak pulang, istri Sya’ban bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, tadi malam sebelum meninggal, tiba-tiba Sya’ban berteriak tiga hal sebagai berikut, ‘Seandainya bisa lebih jauh, seandainya aku berikan yang lebih bagus, seandainya aku berikan semuanya. Apakah maksutnya, Ya Rasulullah ?

Rasulullah tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ia membacakan Surah Qaf ayat 22, yang artinya, “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.”

Lalu Rasulullah SAW menjelaskan, menjelang wafatnya Sya’ban diperlihatkan oleh Allah SWT balasan akan amal perbuatannya.

Mengenai jarak yang harus ditempuhnya dari rumah ke masjid untuk melaksanakan shalat fardhu berjamaah. Jarak tersebut harus ditempuh pulang pergi tujuh jam. Saat mengetahui betapa besar pahala yang Allah berikan, Sya’ban pun berseru, “Seandainya bisa lebih jauh.” “Artinya, kalau seandainya jarak rumah-masjid itu lebih jauh, niscaya Sya’ban bisa mendapatkan pahala yang lebih besar lagi. Itulah yang disesali oleh Sya’ban,” 

Semoga cerita di atas bisa memberikan inspirasi dan motivasi bagi kita semua untuk lebih rajin melangkahkan kaki menuju masjid untuk shalat berjamaah. 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.