TIGA KALI NABI MELAKUKAN HIJRAH


Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kajian Rabu Pagi ba'da shubuh di Masjid At Taqwa Pogot Surabaya yang diasuh oleh ust. Nurcholis Huda


Dalam kajian Rabu ba'da shubuh, 11 Agustus 2021 di Masjid at Taqwa Pogot kali ini membahas sekitar hijrah Nabi Muhammad saw. Hal ini terkait dengan datangnya tahun baru Islam 1 Muharram 1443 H. yang jatuh pada tanggal 10 Agustus 2021.

Kajian berlangsung dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan dengan menjaga jarak, pakai masker, mencuci tangan dan membawa alas shalat sendiri. 

Dalam kajian tersebut ustad Nurcholis Huda menyampaikan tentang tiga sejarah Nabi Muhammad melaksanakan Hijrah. 

MENGINTIP HIJRAH NABI MUHAMMAD SAW.

1. Hijrah ke Habasah

2. Hijrah ke Thaif

3  Hijrah ke Yasrib atau Madinah

Tahun baru Islam ditetapkan berdasarkan berdasarkan hijrah Nabi ke ke Madinah

Bulan hijriyah berdasarkan perhitungan peredaran bulan.

HIJRAH KE HABASYAH

Ketika tekanan terhadap Islam meningkat di Makkah, Nabi Muhammad SAW memerintahkan sekelompok sahabatnya untuk hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Sementara, kaum kafir Quraisy berusaha membuntuti rombongan ini guna menggagalkan misi tersebut.

Setibanya di tempat tujuan, mereka pun diterima Raja Najasi, dalam suatu majelis kerajaan penuh keagungan. Tidak seperti tamu-tamu lainnya, kaum Muslimin memasuki majelis kerajaan tanpa mengikuti kebiasaan rakyat setempat: menunduk dan bersujud di hadapan raja yang beragama Kristen itu.

Melihat kesempatan ini, pihak kafir Quraisy yang juga hadir berusaha menjatuhkan posisi kaum Muslimin di hadapan Raja Najasi. Namun, juru bicara kaum Muslimin yang juga sepupu Rasulullah SAW, Ja'far bin Abi Thalib, tampil menjelaskan.

"Agama kami tidak membenarkan bersujud di hadapan selain Allah SWT," jawab Ja'far, pemuda tampan yang juga kakak dari Ali bin Abi Thalib. Rupanya penjelasan ini dapat diterima raja hingga akhirnya kaum Muslimin cukup lama tinggal di Habasyah.

Islam sangat menekankan umatnya untuk menjaga harga diri mereka dan melarang penghambaan manusia kepada manusia. Ini diteladani Nabi Muhammad SAW yang tak menyukai dirinya dibesar-besarkan secara berlebih-lebihan oleh sahabatnya.

Pernah beliau berkata, "Kalau aku datang, janganlah kalian bangkit berdiri menghormati kedatanganku seperti orang-orang ajam."

Di saat lain beliau berkata, "Janganlah kalian mengagung-agungkan daku seperti orang Nasrani mengagung-agungkan Isa bin Maryam."

Waktu Makkah menyerah kepada umat Muslim, seorang Badui menggigil ketakutan ketika berhadapan dengan Rasulullah SAW. Melihat hal ini beliau berucap, "Anda tak usah gemetar. Aku ini seorang dari suku Quraisy. Makanan ibunya roti kering."

Islam menginginkan umatnya untuk hanya takut kepada Allah SWT, dan memuji orang-orang yang berperilaku demikian. "Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut." (QS Al-Baqarah [2]: 40).

Sesungguhnya Islam mendorong rasa takut kepada Allah SWT dan menyeru kepada-Nya karena yang demikian punya pengaruh dan akibat yang baik dalam kehidupan individu dan jamaah. Adapun takut kepada manusia, maka ia dicela dan dilarang oleh Islam, karena hal itu mencegah manusia berterus terang dengan kebenaran, menghalangi dirinya dari upaya mengubah kemungkaran.

Juga, menjadikan individu sebagai manusia yang plin-plan dan tak bermutu, tidak dapat diharapkan kebaikannya dan tak dapat diamankan dari kejahatannya. "Dan kamu takut kepada manusia. sedang Allah-lah yang lebih berhak kamu takuti." (QS Al-Ahzab [33]: 37).

HIJRAH KE THAIF

Penduduk Thaif mengusir dan melukai Nabi Muhammad  Setelah kematian Abu Thalib dan Khadijah tekanan kepada Nabi dari kaum kafir Quraisy semakin keras. Menurut Ibn Ishaq, sebagaimana dikutip oleh al-Mubarakfuri dalam ar-Rahiq al-Makhtum (hal. 148) orang-orang Quraisy lebih bersemangat menyakiti Nabi setelah Abu Thalib tiada.

Bahkan ada yang berani menghadang lalu menaburkan debu di atas kepala beliau sehingga Nabi pulang ke rumah dengan kepala penuh debu. Seorang puteri beliau membersihkan debu itu dengan bercucuran air mata.

Rasulullah menghiburnya, “Tak perlu menangis puteriku, karena Allah akan melindungi ayahmu.” Karena memerlukan pendamping setelah kematian Khadijah, pada bulan Syawal tahun kesepuluh kenabian ini juga Nabi menikah dengan Saudah binti Zam’ah. Perempuan ini termasuk golongan terdahulu masuk Islam. Saudah ikut rombongan kedua hijrah ke Habsyah bersama suaminya Sakran ibn Amar.

HIJRAH NABI KE YASRIP ATAU MADAINAH

Pada tahun 622 M Nabi melakukan hijrah dari Makkah ke MadinahHijrah itu terjadi karena penindasan orang-orang musyrik Quraisy yang luar biasa terhadap Nabi dan para sahabatnya. ... Dua orang sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar Siddiq dan Ali bin Abi Thalib masih tetap berada di Makkah bersama Nabi.

Dalam hijrah itu, Nabi bersama Abu Bakar ash-Shiddiq sang sahabat terkasih menempuh perjalanan panjang ratusan kilometer, termasuk bertahan 3 hari di Gua Tsur, menuju tempat yang kelak berubah nama jadi Madinah.

Tahun-tahun menjelang hijrah itu, Muhammad kehilangan istri tercinta, Khadijah, disusul dengan meninggalnya sang paman sekaligus pelindungnya, Abu Thalib. Orang-orang Makkah semakin terbuka dalam menyerang Nabi.

Sementara itu, di Yatsrib, suku yang dahulu dominan, Bani Qaylah, terpecah menjadi 2 faksi yang bermusuhan, Aus dan Khazraj. Mereka baru saja merasakan Perang Bu'ath, perang sipil dan konflik terbesar keempat, yang menelan lebih banyak korban.

Pada musim panas 620 Masehi, 6 orang dari suku Khazraj datang ke Makkah untuk berziarah. Mereka sementara tinggal di 'Aqabah. Di sanalah orang-orang ini bertemu dengan Muhammad. Nabi tidak mengenal mereka, tapi orang-orang ini sudah mendengar soal beliau dan kenabiannya. Ketika Rasulullah menyampaikan ajaran, mereka langsung menerima.


Selain tiga peristiwa hijrah tersebut di atas juga disampaikan beberapa kisah Nabi lainnya diantara adalah kisah cinta Khodjijah kepada pemuda gagah perkasa yang memiliki akhlak yang baik, yaitu Nabiyullah Muhammad saw.

Untuk kelanjutan kisah-kisah Nabi Muhammad lainnya akan di bahas dalam kajian Rabu ba'dah shubuh selanjutnya. 







Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.