GURUKU KH SAA'D IBRAHIM

Sore itu, semua yang hadir di ruangan itu mulai menundukkan kepala. Tak ada suara. Hening. Khusyuk penuh khidmat. Pertanda akan dimulainya sesuatu yang sakral. Tangan mereka pun siap-siap menengadah. Berdoa kepada Yang Maha Kuasa. 


PROF. AKHMAD MUZAKKI
SEKETARIS MUI JAWA TIMUR

Momen berdoa itu adalah untuk menutup acara pembukaan rapat evaluasi kerja tahun 2021 dan pembahasan program kerja tahun 2022 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur. Harinya Sabtu, tanggal 23 Oktober 2021. 

Saat semua yang hadir siap-siap menengadahkan tangan untuk mengikuti doa bersama itu, tiba-tiba dari podium terdengar suara yang meggetarkan. “Doa itu akan maqbul kalau yang melakukannya seorang guru. Di sini, ada guru saya. Beliau yang lebih layak memimpin doa bersama ini. Beliau ada ruangan ini. Beliau adalah KH Hasyim Abbas.” Begitu suara itu mengirim pesan. 

Lalu, sosok yang mengirim pesan suara itu turun dari podium. Dia langkahkan kakinya dengan penuh hormat. Lalu mendekat ke kursi yang menjadi tempat duduk KH Hasyim Abbas. Di depan sebelah kanan podium dari arah panggung. 


KH. SA'AD IBRAHIM

Semakin mendekat, semakin tampak penghormatan beliau kepada sang guru. Begitu sampai di kursi sang guru, beliau pandu sang guru untuk berdiri. Lalu kontan, beliau sahut tangan kanan sang guru. Lantas, beliau merunduk dan kemudian tampak mencium tangan sang guru. 

Semua yang hadir pun terdiam. Termangu. Terkesima dengan pemandangan yang mereka saksikan sore itu.  Lalu doapun dipimpin oleh sang guru. Dan sang murid bersama semua yang hadir di acara sore itu mengamini doa sang guru. 

Lelaki mulia yang awalnya oleh MC diminta memimpin doa lalu mengundurkan diri karena ada sang guru yang sangat dihormatinya itu adalah Dr. KH. Saad Ibrahim, MA. Saya memanggil beliau Kyai Saad. Lama saya mengenal beliau. 

Kali ini, beliau telah mengajarkan kepada kami semua bagaimana berakhlaq kepada guru, orang yang telah berjasa pada kehidupan kita. Praktisnya, makin pandai seseorang tidak perlu menjadi sombong.  Makin pintar tak harus membuat diri kehilangan akhlaq. Kepada guru dan tentu orang tua. Sore itu, Kyai Saad sedang menunjukkan keutamaan akhlaq murid kepada sang guru walaupun belau kini sudah menjadi ulama besar. 

Kyai Sa’ad adalah pemimpin ormas besar. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Tentu jabatan itu tidak akan diserahkan oleh Muhammadiyah kepada orang sembarangan. Beliau telah menjadi kyai besar. Beliau doktor. Sementara sang guru yang dulu mengajarinya tidak seperti dirinya dalam soal kualifikasi akademik formal.  Tapi, Kyai Sa’ad tetap hormat kepada sang guru. Beliau tetap santun dan takdzim terhadap sang guru. 

Dalam hati saya bergumam, inilah karakter ulama. Dan, kyai Saad sedang mengajari kami semua tentang kemuliaan akhlaq kepada guru. Saya yakin, Kyai Saad tidak butuh apresiasi. Tapi, izinkan kami belajar pada kemuliaan akhlaq beliau. 

Matur nuwun kyai. Engkau telah menjadi guru akhlaq kepada kami semua.(Muzakki).

admin_arifin




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.