SOSOK MODERASI BERAGAMA SEJATI

Wacana moderasi beragama telah kita dengar dan lihat bersama baik melalui media cetak maupun media sosial termasuk di kajian-kajian ilmiah maupun sekedar obrolan kecil tradisional diwarung-warung kopi. Wacana ini muncul tidak lepas dari keingingan bersama akan sebuah kedamaian ditengah-tengah kebinekaan yang terdapat di negara yang kita cintai, yaitu Indonesia.

Oleh: Muchamad Arifin 

KABID AGAMA SOSBUD FKPT

JAWA TIMUR

Indonesia merupakan bangsa yang besar. Negara yang dianugerahi sebagai bangsa yang majemuk, terdiri dari banyak suku, agama, budaya, serta bahasa daerah yang berbeda. Sebagai negara majemuk bagaimana caranya supaya masyarakatnya tetap bisa hidup rukun damai dan sejahtera. Nah salah satu solusi untuk mengantarkannya menuju kedamaian dan kerukunan  adalah dengan cara moderasi beragama.

Ditengah semaraknya peringatan maulid ini menjadikan saya teringat sosok moderasi beragama sejati, yaitu beliau pemimpin umat yang telah di SK oleh Sang Maha Pencipta Allah Subhanallahu Ta'ala, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam.

Mari kita baca bersama bahwa dalam rentang kesejarahan dengan periode nubuwwah telah demikian lama, namun Nabi Muhammad  memberi teladan perilaku dan inspirasi yang demikian nyata dalam mengelola heterogenitas dengan prinsip penghargaan terhadap hak asasi dan sikap saling memuliakan. 

Dalam pengetahuan saya yang penuh keterbatasan ini, bahwa keteladanan dan tindakan Nabi Muhammad tersebut dengan sendirinya menempatkannya menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia, baik yang beriman kepadanya maupun yang tidak. Bahkantidak ditemukan dalam ayat al-Quran seorang pun yang dijuluki dengan Rahmat, kecuali Rasulullah Muhammad SA, dan tidak juga satu pun makhluk yang disifati dengan sifat Allah ar-Rahim, kecuali Rasulullah Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah SWT sebagai bentuk rahmat dan rasa kasih sayang, karunia, dan nikmat yang diberikan kepada makhlukNya di seluruh alam semesta (rahmatan lil alamin).

Rahmatan lil alamin menunjukkan bahwa kehadiran Rasulullah di tengah kehidupan masyarakat mewujudkan rasa kedamaian dan ketentraman bagi alam semesta dan manusia tanpa membedakan agama, suku, dan ras. Rasulullah menjadi rahmat bagi semesta, termasuk di dalamnya adalah  hewan, tumbuhan, dan lingkungan.

Hal ini sesuai dengan apa yang terkandung dalam Al Quran, Surat Al Anbiya ayat 107 : 

Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Istimewanya, kehadiran Nabi Muhammad saw. adalah sebuah kesemestaan yang mengatasi waktu dan tempat, karena bukan saja membawa ajaran, tapi lebih jauh adalah rahmat yang dianugerahkan Allah swt.

Sebagai seorang muslim tentunya tidak asing dengan yang berbunyi bahwa: Kami tidak mengutus engkau (hai Muhammad) untuk membawa rahmat, tetapi sebagai rahmat atau menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Empat sifat ketauladanan yang dimiliki Nabi Muhammad yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Siddik (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabliq (menyiarkan), dan Fathanah (cerdas). Sifat ini menjadi dasar kepribadian yang dimiliki oleh Nabi Muhammad  yang menjadikannya figur utama dengan segala nilai kebaikan dan egaliter dalam bersosialisasi. 

Contoh toleransi yang diwujudkan dalam sikap berdiri di atas keadilan dan kebaikan tersebut oleh Nabi Muhammad ditunjukkannya ketika berinteraksi dengan non-muslim yang berdamai dan tidak melakukan permusuhan.

Imam Al-Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Asma binti Abi Bakar bahwa ibunya yang musyrik pernah datang kepadanya. Lalu dia meminta fatwa kepada Rasulullah. Asma bertanya, "Ibuku datang kepadaku dan dia ingin agar aku berbuat baik kepadanya. Apakah aku harus berbuat baik kepadanya?" Rasulullah menjawab, "Ya, berbuat baiklah kepadanya."

Sikap toleran Nabi Muhammad tersebut semakin jelas terlihat ketika beliau memperlakukan Ahli Kitab, baik Yahudi ataupun Nasrani. Beliau sering mengunjungi mereka. Beliau juga menghormati dan memuliakan mereka. Jika ada di antara mereka yang sakit, beliau menjenguknya. Beliau pun menerima hadiah mereka dan memberi hadiah kepada mereka. 

Sikap toleran Nabi Muhammad saw. tersebut semakin jelas terlihat ketika beliau memperlakukan Ahli Kitab, baik Yahudi ataupun Nasrani. Beliau sering mengunjungi mereka. Beliau juga menghormati dan memuliakan mereka. Jika ada di antara mereka yang sakit, beliau menjenguknya. Beliau pun menerima hadiah mereka dan memberi hadiah kepada mereka. 

Dalam sirahnya, Ibnu Ishaq menyebutkan, "Ketika rombongan kaum Nasrani Bani Najran datang kepada Rasulallah saw di Madinah, mereka menemui beliau di dalam masjid selepas salat Asar. Mereka masuk masjid dan salat di sana. Orang-orang pun hendak melarang mereka, namun Nabi berkata, biarkan mereka. Lalu mereka pun salat dengan menghadap ke arah Timur." 

Di dalam Al-Amwal Abu Ubaid menyebutkan sebuah riwayat dari Said bin Al-Musayyib, bahwa Rasulullah saw pernah mengeluarkan shadaqah kepada keluarga orang Yahudi. Al-Bukhori meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi pernah menjenguk orang Yahudi. Lalu beliau mengajaknya untuk masuk Islam hingga dia masuk Islam. Setelah itu, beliau keluar dan bersabda, "Segala puji bagi Allah yang dengan perantaraku telah menyelamatkan dia dari api neraka." 

Dalam hadits lain, Al-Bukhori meriwayatkan, ketika Rasulullah saw wafat, baju perangnya masih digadaikan kepada orang Yahudi untuk memberi nafkah keluarganya. Padahal, beliau bisa meminjam kepada para sahabat. Namun ini tidak berarti bahwa para sahabat kikir kepada beliau. Beliau hanya ingin memberikan pelajaran kepada umatnya, bahwa beliau menerima hadiah dari non-muslim, selama mereka tidak berbuat jahat dan makar, dalam keadaan damai maupun perang. 

Contoh lainnya, suatu hari jenazah seorang Yahudi lewat di depan Nabi. Lalu beliau berdiri. Para sahabat berkata, "Itu adalah jenazah Yahudi!," beliau menjawab, "Bukankah dia juga manusia?" Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad  saw. adalah seorang moderat, sangat menghargai semua orang walaupun berbeda suku, ras, dan agama. 

Penekanan Nabi Muhammad saw. terhadap toleransi dalam Piagam Madinah dan berbagai praktik baik tersebut mencerminkan upayanya untuk mewujudkan kedamaian dan ketenteraman masyarakat dengan segala perbedaannya. Sikap toleran mendorong sikap kasih sayang terhadap sesama umat manusia, pun sesama agama, juga mereka yang berbeda agama. 

Tentu saja, pandangan moderat Nabi Muhammad saw. diuji oleh sikap perlawanan, fitnah, dan cemoohan pihak yang tidak bersetuju. Namun demikian, terhadap semua tindakan negatif tersebut, Rasulullah Muhammad saw. tetap bersikap lemah lembut.

Semoga tulisan yang saya kutip dari banyak sumber ini menjadikan manfaat bagi kita semua untuk bisa lebih indah, aman dan damai penuh ketentraman dan kebahagiaan di tengah-tengah masyarakat.Wallahu a'lam bis-shawab.

admin_arifin



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.