MODERASI BERAGAMA MERUPAKAN KUNCI KESEIMBANGAN

Indonesia bukan negara agama, tapi juga tidak memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari warganya.

Prof. DR. Husniyatus Salamah Zainiyah, M.Ag

Bendahara BNPT-FKPT Jawa Timur


Munculnya kasus-kasus kekerasan mengatasnamakan agama telah bertentangan dengan prinsip kehidupan umat manusia, seperti penyerangan kelompok Islamis radikal di Solo (2020), konflik pendirian tempat ibadah dan lainnya. Kasus kekerasan tersebut terjadi disebabkan antara lain karena pemahaman agama yang persial (Biyanto: 2015). 

Pemahaman yang persial itu akan membuat pengikutnya bertindak intoleran dan tidak sesuai dengan ajaran agama. Maka dibutuhkan pemahaman yang komprehensif yang dapat mengakomodir dan meluruskan paham-paham yang bertentangan dengan kemaslahatan bersama terlebih untuk keberlangsungan kehidupan umat beragama. 

Sebagaimana kesepakatan founding father bangsa bahwa Indonesia bukan negara agama, tapi juga tidak memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari warganya. 

Nilai-nilai agama dijaga, dipadukan dengan nilai-nilai kearifan dan adat-istiadat lokal. Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. 

Pilihan pada moderasi dengan menolak ekstremisme dan liberalisme dalam beragama adalah kunci keseimbangan, demi terpeliharanya peradaban dan terciptanya perdamaian. 

Dengan cara inilah masing-masing umat beragama dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, serta hidup bersama dalam damai dan harmoni. Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, moderasi beragama bisa jadi bukan pilihan, melainkan keharusan.

Lembaga pendidikan seperti sekolah memiliki peran strategis untuk memutus mata rantai kekerasan atas nama agama. 

Pendekatan edukatif bagi seluruh peserta didik yang dapat diimplementasikan dalam pendidikan damai yang diintegrasikan dengan kurikulum sekolah, latihan penyelesaikan konflik secara konstruktif, mediasi dan negosiasi oleh teman sebaya  merupakam usaha bersama agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mendamaikan. 

Pengetahuan keagamaan yang luas dan tidak parsial harus diajarkan di lembaga pendidikan agar peserta didik memiliki pondasi paham keagamaan yang tidak sempit.(Samsul AR: 2020)

Dalam hal ini, peran guru sangat sentral dalam rangka menanamkan pendidikan moderasi beragama di sekolah. 

Guru menurut Luc Reychler (2006) merupakan role model bagi peserta didik, maka dibutuhkan beberapa syarat yaitu: 

Pertama, adanya saluran komunikasi yang efektif dan harmoni yang memungkinkan terjadi proses diskusi, klarifikasi, dan koreksi terhadap penyebaran informasi atau rumor yang berpotensi menimbulkan ketegangan antar kelompok sosial.

Kedua, bekerjanya lembaga penyelesaian masalah, baik yang bersifat formal seperti pengadilan atau informal seperti lembaga adat dan agama.

Ketiga, adanya tokoh-tokoh pro perdamaian yang memiliki pengaruh, sumberdaya dan strategi efektif dalam mencegah mobilisasi masa oleh tokoh pro konflik.

Keempat, struktur sosial-politik yang mendukung terwujudnya keadilan dalam masyarakat.

Kelima, struktur sosial-politik yang adil bagi bertahannya integrasi sosial. Karena itulah, guru sebagai seorang pendidik harus mampu mengurai perbedaan ras, bahasa, warna kulit dalam mengimplentasikan moderasi beragama di sekolah. Harapannya peserta didik dapat mengambil contoh atas tindakan yang dilakukan oleh guru sehingga  dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata. 

Implementasi moderasi beragama dalam pembelajaran dapat diterapkan dalam metode pembelajaran, antara lain: Metode diskusi, dengan berdiskusi peserta didik memiliki sifat demokratis karena dapat mengutarakan pendapat masih di forum diskusi. 

Kemudian dengan berdiskusi, peserta didik memiliki sikap saling menghargai pendapat orang lain yang berbeda-beda; Metode kerja kelompok adalah penyajian materi dengan cara pemberian tugas-tugas kepada peserta didik yang sudah dikelompokkan untuk mencapai tujuan. 

Esensi dari kerja kelompok adalah untuk gotong royong, saling membantu dalam menyelesaikan sebuah permasalah dalam pembelajaran. Oleh sebab itu, metode kerja kelompok ini bagian dari strategi guru dalam menanamkan moderasi beragama bagi peserta didik sehingga peserta didik bersifat luwes dan tidak esklusif dalam beragama; dan Metode karya wisata dalam pembelajaran moderasi beragama merupakan bagian dari usaha pendidik agar dapat memberikan pengalaman hidup dengan orang yang lain yang berbeda-beda baik dari kultur, budaya, kepercayaan, dan status sosial. 

Karena moderasi beragama perlu dipraktikan dalam kehidupan peserta didik.(Herawati: 2019) Tentunya, guru harus mengarahkan, membimbing, dan menunjukkan kepada peserta didik tentang pentingnya moderasi beragama saat mengadakan kunjungan ke tempat-tempat yang telah ditentukan sesuai dengan materi pembelajaran yang dijelaskan di dalam kelas. 

Dengan demikian, guru diharapkan dapat memilah dan memilih metode yang tepat bagi peserta didik agar pemahaman tentang konsep moderasi beragama dapat melekat dalam diri peserta didik dan pada gilirannya dapat diimplentasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

admin_arifin


31 komentar:

  1. Great writing.
    Indonesia is not seculer nation.
    Semoga damai indonesiaku.

    BalasHapus
  2. Semoga semua guru di Indonesia mampu mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama.

    BalasHapus
  3. Pendidikan dengan mengedepankan nilai-nilai luhur Pancasila sangat dibutuhkan dengan memperkuat mental ideologi yang Berakhlakqul Karimah dalam bingkai NISWA Aamiin

    BalasHapus
  4. Semoga semua guru di Indonesia mampu mengamalkan nilai-nilai moderasi beragama, mampu menebarkan rahmat untuk semesta.

    BalasHapus
  5. Indonesia membutuhkan guru yang arif tidak hanya pengetahuan tetapi juga akhlaknya

    BalasHapus
  6. 👏👍😀
    Sangat menginspirasi..

    Moderasi mengarah pada kedamaian dan kesejahteraan, sehingga memjadikan kemajuan dalam peradaban.

    Bangsa yang berkualitas dalam bermoderasi,
    Akan menjadi Bangsa yang memilki peradaban maju

    BalasHapus
  7. Sangat menginspirasi utk guru khususnya

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Para pendidik memegang peranan penting dalam menyatukan bangsa yang majemuk ini.
    Semoga bangsa Indonesia selalu bersatu dalam keberagaman agama dan budaya. .

    BalasHapus
  10. Sepakat Prof Titi. Guru merupakan ujung tombak terciptanya moderasi beragama di negara ini. Banyak momen di dalam kelas yang bisa dijadikan saat yang tepat untuk menanamkan pelajaran mengenai rasa saling menghargai dan menghormati keberagaman di antara murid-muridnya.

    BalasHapus
  11. Sepakat banget.semangat utk semua guru indonesia

    BalasHapus
  12. Berada dalam keseimbangan bukan hal yang mudah , butuh ilmu pengetahuan (agama) yang mendalam. Seimbang antara tatharruf dan tasahhul, itulah moderasi beragama. Semangat para pendidik untuk wujudkan profil pelajar Pancasila dengan memegang kunci moderasi beragama.

    BalasHapus
  13. Setiap perjalan dimulai dari satu langkah. Bravo bu prof.

    BalasHapus
  14. Semoga kedepan.. makin banyak guru yang tidak hanya mengedukasi tentang teori2 tapi juga ikut serta membentuk dan membina karakter agama kepada peserta didiknya.. jayalah guruku !!!

    BalasHapus
  15. pemahaman konsep dan implementasi moderasi beragama perlu secara intensif disampaikan kepada semua pihak dengan agar tidak menjadi boomerang dan terjadi mispersepsi sehingga moderasi beragama ini tidak lagi dianggap sebagai aliran cara beragama yg baru. terimakasih

    BalasHapus
  16. Leres Prof. Sangat bermanfaat sekali. Terima kasih.🙏

    BalasHapus
  17. Alhamdulillah sehat dan sukses selalu damel jenengan prof.��

    BalasHapus
  18. Bhinneka Tunggal Ika Indonesia

    BalasHapus
  19. Guru adalah sebagai tonggak moderasi beragama disetiap jenjang sekolah mulai dari tingkat taman kanak kanak sampai perguruan tinggi.mampu mengimpletasikan .meng upayakan mewujudkan keberagaman moderasi dengan demikian akan tercipta yg semula intoleran menjadi toleran.saling asah asih asuh.selain itu terciptanya uhuwah islamiyah.uhuwah basyariyah sampai pada uhuwah wathoniyah.menuju persatuan dan kesatuan NKRI.sebagai landasan dasar rasulullah saat membangun negeri madinah yg baldatun thoyyibatun warobbun ghofur.yg dibutuhkan toleransi moderasi beragama antar pemeluk.oleh karena itu lewat guru sebagai penggerak nya...selain guru tokoh masyarakat .para tokoh ormas untuk menyatukan persepsi tentang toleransi ber agama.ber negara dan berpolitik untuk menuju kesatuan dan persatuan bangsa sehingga tidak akan muncul saling menjelekkan antar kelompok .golongan yg dapat mengakibatkan perpecahan dan keutuhan bangsa dengan demikian beragama yg moderasi ini bisa terwujud di negeri tercintai ini.menuju persatuan dan kesatuan dalam falsafah pancasilah .yg sesuai dengan ajaran rosulullah saw.

    BalasHapus
  20. Sehat selalu buat bu prof & bermanfaat untuk tetap menebar nilai2 moderasi beragama

    BalasHapus
  21. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  22. Jualan issu terorisme gak laku, beralih jualan radikal-radikal,bangkrut jualan radikal-radikal ganti jualan (islam nusantara-islam moderat), gak laku juga coba menjajakan moderasi beragama.
    Istilah moderasi beragama, islam moderat, deradikalisasi, radikal-radikal, ekstrimis, terorisme....semuanya dalam satu tarikan benang merah yang sama.
    Kata moderasi adalah istilah dari barat,jadi secara makna dan pelaksanaan tentu saja harus sesuai dengan cara pandang dan kepentingan barat.

    BalasHapus
  23. Akar masalah adalah ketidak adilan.
    Tegakkan keadilan dan jangan ambigu dalam mendefinisikan istilah...maka semua masalh selesai.
    Apapun jualannya....mau jualan terorisme, radikal-radikul, moderasi agama...kalo keadilan tidak ditegakkan ya gak akan selesai.
    Percayalah!

    BalasHapus
  24. Kampanye moderasi beragama secara halus telah menuduh bahwa agama mengajarkan "kekerasan atas nama agama".
    Padahal faktanya yang mengklaim islam moderat, islam toleran lah yang sering melakukan kekerasan.
    Melakukan pembubaran pengajian pihak lain dengan dalih tidak sesuai dengan pemahaman yang dianutnya.
    Jadi: moderasi agama, radikal radikul, islam moderat, islam toleran dll hanyalah jualan politik untuk mendegradasi islam yang sesungguhnya.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.