CUKUP PILIH DUA SAJA

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. HR. Bukhari

Muchamad Arifin

Dua pilihan sebagaimana yang tersebut dalam Hadits tersebut diatas mengingatkan kita semua agar bisa melakukan pilihan ketika dihadapkan pada masalah kehidupan.

Hadis ini merupakan rujukan utama bagi seorang Muslim dalam bersikap dan membina hubungan dengan sesama. Karenanya, hadis ini harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Walau redaksinya sangat singkat, tapi pengaruhnya sungguh luar biasa, terutama untuk mewujudkan kemesraan hidup ditengah keluarga, masyarakat, beragama dan bernegara.

Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)

Pada dasarnya setiap orang memang punya hak untuk menyuarakan pemikirannya. Namun, apakah semua yang tersimpan dalam pikiran harus disampaikan? Gak harus. Karena ada beberapa hal yang harus kita saring sebelum kita sharing. Ada perkataan yang harus kita jaga sebelum kita  keluarkan dan didengar oleh telinga orang lain. Jika yang kita sampaikan bisa memberiakn manfaat bisa kita samoaikan namun jika membawa madharat jangan disampaikan.

Cara paling tepat mencegah lisan agar tidak mengatakan hal yang buruk dan tidak bermanfaat adalah dengan diam. 

Beberapa alasan kenapa lebih baik diam:

Karena perkataan yang sudah diucapkan tidak bisa ditarik kembal. Inilah salah satu pertimbangan kenapa lebih baik diam.

Jangan menjadi seseorang yang lepas kendali ketika berbicara. Karena tidak semua hal harus dikatakan. Mari kita biasakan untuk berpikir sebelum berbicara. Mari kita pertimbangkan dengan baik dan buruknya yang akan kita sampaikan.

Ada yang harus kita ingat, bahwa: Perkataan yang sudah kita sampaikan kepada orang lain tidak akan bisa ditarik kembali. Meskipun kita membatalkan ucapan setelah disampaikan, namun kesan dariapa yang kita  ucapan masih teringat di pikiran orang lain.


Ada alasan lain kenapa kita lebih baik diam. Karena diam itu lebih menyelamatka ketika kita tidak bisa mengatakan hal yang baik. Kita lebih berada di posisi aman dengan menjaga diri kita dan tidak menyakiti orang lain. Orang yang bijak tentunya lebih berhati-hati saat bicara dan lebih membuka diri untuk mendengar.

Memang sulit untuk dilakukan, namun secara perlahan semuanya bisa diterapkan. Mari kita tanamkan pemikiran bahwa harus mengutamakan ucapan yang baik dan bermanfaat. Sehingga kita tidak akan mengucapkan semua yang ingin diucapkan.

Perkataan merupakan cerminan dari karakter seseorang

Apa yang kita kataa merupakan  cerminan diri kita sendiri. Karena sumber perkataan adalah dari dalam diri sendiri. Itulah yang menjadi karakter diri kita di mata orang lain. Orang yang baik akan mengatakan hal yang baik. Sementara orang yang buruk tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak mengatakan hal-hal yang buruk.

Bahkan, saat berkenalan pertama kali dengan seseorang, maka orang lain akan punya persepsi awal tentang karakter seseorang lewat cara bicaranya dan apa yang dibicarakannya.

Diam jauh lebih baik bagi diri kita semua. Karena diamnya seseorang lebih aman dan tidak membawa dampak penyesalan di kemudian hari. Meskipun ada penyesalan, maka hanya bagi diri kita sendiri saja dan orang lain tidak terkena imbasnya.

Diri kita sendirilah yang mengendalikan ucapan kita. Lebih baik diam jika memang tidak bisa mengatakan yang baik-baik.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan hambaNya yang kebih baik dan bermanfaat. 

Muchamad Arifin
Ketua LDK Muhammadiyah Jaim

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.