BERAGAMA DENGAN MODERAT

Moderasi Beragama merupakan salah satu usaha untuk mewujudkan hidup rukun berdampingan ditengah keanekaragaman budaya, suku, ras dan agama.

 

Muchamad Arifin saat menyampaikan materi

Moderasi Beragama merupakan salah satu usaha untuk mewujudkan hidup rukun berdampingan ditengah keanekaragaman budaya, suku, ras dan agama. Inilah yang disampaikan oleh Muchamad Arifin pada seminar Moderasi Beragama yang diselenggarakan Pemuda Muhammadiyah Kota Surabaya, 23 Januari 2022.

Acara seminar ya diselenggarakan di SD Muhammadiyah 11 Surabaya ini menghadirkan narasumber Kabid Agama Sosbud dari BNPT perwakilan Jawa Timur ( FKPT) Muchamad Arifin, S.Ag, M.Ag dan Kompol Imam dari Polres Tabes Surabaya.

Dalam paparan materinya Muchamad Arifin yang juga ketua Lembaga Dakwah Khusus (LDK) Muhammadiyah Jawa timur  menyampaikan, bahwa kita bersyukur telah ditakdirkan hidup dinegara yang subur, makmur juga majemuk yang kaya akan perberbedaan serta keanekaragaman budaya. 


Indonesia adalah negara yang religius. Hal itu dibuktikan dalam sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Kebebasan dalam beragama dijamin dalam UUD 1945 pasal 29 yang menyatakan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya.

Di Indonesia sendiri, ada enam agama yang diakui oleh negara. Agama-agama yang diakui oleh negara adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan juga Konghucu. Keenam agama harus hidup berdampingan di masyarakat dengan prinsip toleransi antarumat beragama.

Jadi, dalam hal ini, pentingnya moderasi beragama adalah karena ia menjadi cara mengembalikan praktik beragama sesuai dengan esensinya, dan agar agama benar-benar berfungsi menjaga harkat dan martabat manusia, tidak sebaliknya.

Pada dasarnya ide moderasi adalah untuk mencari persamaan dan bukan mempertajam perbedaan. Jadi  moderasi beragama sebagai solusi, agar dapat menjadi kunci penting untuk menciptakan kehidupan keagamaan yang rukun, harmoni, damai, serta menekankan keseimbangan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun kehidupan secara keseluruhan.

Sekali lagi perlu kami sampaikan bahwa, moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama, dengan cara lebih memantapkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan  dan membangun kemaslahatan umum, berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

Pemuda Muhammadiyah yang pada pagi ini menyelenggarakan seminar moderasi beragama merupakan bentuk kepedulian dalam upaya mewujudkan rasa toleransi ditengah keanekaragaman budaya, agama, suku, ras yang ada di negara Indonesia.

Pandangan yang salah akan maksud dari moderasi beragama masih sering kita saksikan dibeberapa media sosial. Oleh karena itu pemuda termasuk didalamnya Pemuda Muhammadiyah memiliki peran yang strategis dalam meluruskannya.

Kepada para peserta seminar Muchamad Arifin yang pernah dinobatkan oleh Musium Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai pemrakarsa dalam lomba vidio guru pelopor moderasi beragama ini menyampaikan bahwa Moderasi Beragama merupakan ijtihad berasama untuk mewujudkan sikap toleransi antar umat beragama. Sedangkan dalam Islam ada istilah yang lebih khusus, yaitu Islam Wasathiyah.

Wasathiyah adalah ajaran Islam yang mengarahkan umatnya agar adil, seimbang, bermaslahat dan proporsional, atau sering disebut dengan kata “moderat” dalam semua dimensi kehidupan.

Menurut Profesor Din   Syamsudin dalam beberapa tulisannya menyampaikan, bahwa Islam Wasathiyah adalah ajaran Islam yang mengarahkan umatnya agar adil, seimbang, bermaslahat dan proporsional, atau sering disebut dengan kata “moderat” dalam semua dimensi kehidupan.

Ketua LDK Muhammadiyah Jatim kepada lensadakwah.com pasca seminar berlangsung berpesan dan mengajak kepada para aktivis termasuk Pemuda Muhammadiyah: Marilah kita jadi bagian dari manusia yang bermanfaat ditengaj kehidupan, bukan menjadi manusia yang bermasalah bagi yang lain. 

Ingat sebuah Hadits yang berbunyi: Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.

lensa_ldkpwmjatim

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.