MUHAMMADIYAH DI MATA MILENIAL

Apa yang akan kita rasakan jika sebagai orang tua yang aktif di persyarikatan, kemudian buah hati berkata aku tidak akan di Muhammadiyah ?


Ustadza Humaiyah*

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.QS. Ali Imran: 104

Apa yang akan kita rasakan jika sebagai orang tua yang aktif di persyarikatan, kemudian buah hati berkata aku tidak akan di Muhammadiyah ?. Toh berbuat baik tidak harus melalui Muhammadiyah. Masih banyak jalan lain. 

Pastilah beraneka rasa campur aduk akan kita rasakan. Di satu sisi, anak adalah aset pelangsung dakwah kita di persyarikatan dalam hal ini Muhammadiyah. Namun di sisi lain, ada hal – hal di mata anak, Muhammadiyah tidak seindah yang pernah kita ceritakan. 

Keluarga ( Istri/suami, anak kandung atau menantu ) adalah orang terdekat kita. Bisa dipastikan senangnya beramal di Muhammadiyah yang kita rasakan saat ini, mereka merasakannya juga. Atau dengan kata lain, kita sudah berkeyakinan bahwa Muhammadiyah jalan terbaik menggapai ridlo Allah. Maka hal itu juga yang ingin kita turunkan kepada anak cucu kita. Namun apa yang harus kita lakukan, jika kemudian anak bertolak belakang ?

Tidak usah menanggapinya dengan ekspresi menakutkan. Please tenang saja. Sementara biarkan anak dengan jalan pikirannya. Cari cara terbaik bagaimana mengenalkan Muhammadiyah sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kalaupun tidak bisa kita lakukan saat itu juga, kita cari momen terbaik di lain waktu.

Ada banyak alasan mengapa anak seorang aktifis tidak serta merta menjadi aktifis persyarikatan juga. Pertama, bisa jadi anak mendapat pengalaman tidak menyenangkan di Muhammadiyah. Bukan di persyarikatannya melainkan personalnya. Kedua, anak merasakan kebosanan saat menghadiri acara di Muhammadiyah. Hanya mendengarkan kajian, setelah itu pulang. Ketiga, kurang inovasi kegiatan yang menarik. Apalagi untuk anak milineal yang berharap kemampuannya diapresiasi oleh seniornya. Keempat, senior kurang mampu menciptakan rasa nyaman di Muhammadiyah.

Ini menjadi pekerjaan rumah buat pimpinan atau senior di Muhammadiyah. Bagaimanapun hebatnya senior pasti suatu saat akan membutuhkan regenerasi juga. Kader yang akan menjadi pelopor, pelangsung dan penyempurna Muhammadiyah. 

Berikan apresiasi saat anak melakukan kebaikan di persyarikatan. Sekecil apapun kebaikan itu. Hal ini akan melahirkan perasaan nyaman. Oh, Muhammadiyah ternyata seperti taman bunga yang semua serba wangi dan indah.  

IMM Jember saat orasi kasus Wadas di depan Polres Jember

Jikalau mereka belum  bisa menciptakan kegiatan yang menarik, maka kewajiban senior memfasilitasinya. Kajian tidak harus di masjid. Bisa dengan nongkrong di cafĂ© sambil  membahas topik yang menarik dengan menghadirkan nara sumber yang asyik dan kompeten. 

Tugas pimpinan dan para senior di Muhammadiyah untuk menampilkan sosok yang bisa menjadi uswatun hasanah. Kekritisan anak jaman now harus kita imbangi dengan  teladan yang baik. Datang terlambat atau main HP saat kajian misalnya, menjadi celah bagi milenial Muhammadiyah untuk melakukan koreksi dan menimbulkan ketidaksimpatian. Jare pimpinan tapi kok ga bisa menghargai orang yang lagi berbicara di depan.

Jangan terlau banyak menuntut jika kita tidak paham dengan dunianya. Jangan memvonis saat kita melihatnya melakukan kesalahan. Andai mereka pernah terluka saat di persyarikatan, maka tugas kita hanya satu, menghadirkan sosok senior Muhammadiyah yang mampu mengobati luka itu. Sosok Muhamamdiyah yang menyenangkan dan menggembirakan.

Milenial Muhammadiyah aset kita. Kepada mereka kita berharap ada yang melanjutkan perjuangan. Kepada mereka kita melabuhkan segudang rencana masa depan persyarikatan. Kepada mereka juga, Muhammadiyah kita titipkan. Jadi tugas kita sekarang adalah melahirkan kader –kader harapan yang tak usang karena panas, tak lapuk karena hujan. (Humaiya-PDA Jember).

*Alumni peserta bimtek dai komunitas LDK Muhammadiyah Jawa Timur

lensa_ldkpwmjatim.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.