RAMADHAN BULAN BAHAGIA

Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya

Ustadzah Humaiyah*

Salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah masih memberi kita kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh kemuliaan, keberkahan dan ampunan yaitu Ramadlan.  Menyambut dan mengisi  Ramadlan dengan kegembiraan sejatinya ikhtiar kita dalam meraih kebahagiaan individu ataupun jamaah. 

Ada beberapa kebahagiaan saat kita mengisi Ramadlan. Antara lain satu, kebahagiaan fisik. “Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)

Salah satu tanda kebahagiaan fisik adalah berupa kegembiraan dan kenikmataan yang luar biasa saat berbuka. Apalagi setelah sekian lama menahan diri untuk tidak makan dan minum. Haus dan lapar seharian akan tergantikan dengan berbuka meski hanya segelas air putih saja.

Kedua, kebahagiaan intelektual. Jika selain Ramadlan kita disibukkan dengan urusan dunia, maka bulan suci ini memberikan banyak kesempatan kita  meluangkan waktu untuk tadarus dan belajar ilmu agama.  Membaca, belajar, dan berlatih diri menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan otak dan akal . Jika hal ini kita lakukan maka yang kita dapatkan adalah merasakan kebahagiaan intelektual. Sebuah kebahagiaan yang tidak dapat diraih makhluk selain manusia.

Ketiga, kebahagiaan sosial. Ramadlan mengajak kita untuk lebih sering dalam lingkungan berjamaah. Entah di masjid atau mushola. Lebih sering berinteraksi dengan orang lain. Selain sholat jamaah, Ramadlan juga mengajak kita untuk berzakat, infaq atau shadaqah. Terbayang saat kita membagikannya kepad fakir miskin atau yang berhak menerima lainnya. Wajah-wajah memancarkan kebahagiaan. Di sisi lain, kita mampu menurunkan ego dengan berbagi. Memberikan manfaat kepada orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain ?

Keempat, kebahagiaan emosional. Sabar menjadi salah satu indikator keberhasilan puasa. Bersabar saat lapar, bersabar mengendalikan emosi, bersabar dalam memenuhi kebutuhan perut saat berbuka dengan tidak “balas dendam” atas nama kelaparan. Orang yang bisa bersabar adalah ciri orang bahagia. 

Kelima, Kebahagiaan spiritual. Hal ini tercermin pada ketaatan dan ketekunan kita dalam beribadah kepada Allah SWT. Selama Ramadhan kita telah dilatih untuk selalu proaktif mendekatkan diri dan “menemui” Allah SWT. Kedekatan dan “pertemuan spiritual” inilah yang sungguh membahagiakan diri. Lebih-lebih jika kita mendapat janji Allah berupa “garansi” ampunan-Nya. 

Anggap saja Ramadlan tahun ini, Ramadlan terakhir kita. Ada persiapan lebih untuk mengisinya agar Ramadlan ini berlalu dengan sempurna, tidak sia-sia. Dan berharap kita  mendapat gelar manusia bertaqwa. Aamiin.  ( Humaiyah- Tanggul Jember)


* Alumni peserta bimtek dai komunitas ldk Muhammadiyah Jatim.


lensa_ldkpwmjatim

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.