BOLEHKAH PACARAN VIRTUAL ?

Suasana aula sekolah yang terletak di lantai dua penuh dengan siswa kelas x IPA. Tempat duduk terpisah antara siswa laki – laki dan perempuan. Empat salon terpasang di depan aula. LCD sudah siap terpasang. Selasa(12/4/2022) adalah waktu pelaksanaan Pondok Ramadhan di SMA Negeri 2 Tanggu.

Ustdza Humaiyah* saat menyajikan materi didepan peserta pondok ramadhan

Tampil sebagai pembicara adalah Humaiyah SPd, Guru Muhammadiyah Boarding School Tanggul. Kontributor PWMU menyampaikan materi yang bertema Masalah percintaan remaja ditinjau dari sudut pandang Islam,bolehkah ?

Humaiyah menampilkan slide yang bergambar sepasang remaja SMP. Si cowok “menembak” cewek di depan teman –temannya. Disampingnya gambar keduanya saling berpelukan. Terdapat tulisan senang di tembak depan umum ? Padahal ini pelecehan. Siswa tertawa ramai. 

Demikian juga dengan slide – slide selanjutnya. Para siswa menanggapi dengan antusias. Apalagi saat terlihat gambar Dilan membonceng Milea. Menghayal seperti ini ? wkwkw. Meraka tambah tertawa.

Pertanyaannya, adakah cinta ? ya ada. Kalian adalah buah cinta ayah dan ibumu. Masalahnya saat kalian merasakan cinta, apa yang harus kalian lakukan. Apakah perasaan itu dibiarkan hingga meracuni, atau dikelola dengan benar tanpa harus menjerumuskan ” kata Humaiyah mengawali kajiannya.

Menurut Humaiyah remaja adalah sosok manusia yang unik. Banyak karakteristik yang dimiliki. Orang tua harus memahami karakter remaja. Jadi tidak harus marah, saat orang tua atau guru mengetahui remaja melakukan kesalahan. Remaja juga harus membangun komunikasi dengan orang tua sebagai sosok yang paling dekat. 

Ada beberapa batasan atau tindakan preventif agar terhindar dari pacaran. Antara lain menjaga pandangan. Menjaga cara berpakaian, menjaga cara berkomunikas. Membatasi ikhtilath dan menikah. Nah, saat hasrat meninggi, maka menikahlah apabila mampu. Jika belum, maka berpuasalah.

Sama seperti yang orang membuat android Nak. Maka yang tahu seluk beluknya adalah si pembuat android itu sendiri. Begitu juga dengan kita. Karena Allah yang menciptakan kita manusia. Maka Allah lah memberi aturan yang harus ditaati oleh manusia. Untuk apa, untuk keselamatan manusia itu sendiri,” lanjut ibu dua orang anak ini.

Pada sesi tanya jawab, siswa sangat antusias. Ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan. Salah satu dari siswa berkaca mata, Akbar. Siswa dari Semboro ini menanyakan, bagaimana hukumnya menikah  karena takut terhindar dari zina. Tapi secara keuangan belum mampu dan akhirnya  memutuskan tidak  mempunyai anak terlebih dahulu.

Firly, salah seorang siswi bertanya,” Boleh tidak kita pacaran, kita tidak pernah bertemu. Jadi komunikasi lewat medsos saja. Katakanlah Pacaran virtual ?”. Pertanyaan firly mengundang tawa seisi ruangan.

Wahh. Humaiyahpun menyambut pertanyaan dengan tersenyum dan balik bertanya ke Firly.”Firly yakin, saat komunikasi meski lewat HP tidak menimbulkan perasaan yang berbunga- bunga. Nah, kemudian saat kita lalai, kemudian syetan datang membisikkan rayuan. Hai firly, hari ini kamu belum wa pacarmu lho,dst,” jawab Humaiyah. 

Menghindari komunikasi yang seperti itu yang dikatakan la taqrabuz zina, Jangan dekati zina,” tandas Humaiyah. (Humaiyah)

lensa_ldkpwmjatim

* Alumni peserta bimtek dai komunitas LDK PWM Jatim

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.