BAHAYA NIKAH SIRRI, PDA BANYUWANGI LAKUKAN INI.

Lensadakwah.com - Permasalahan Nikah Sirri Dalam Perspektif Perlindungan Perempuan Dan Anak Menurut Hukum Positif.

PDA kab. banyuwangi bersama pemateri memberikan penyuluhan.


Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Banyuwangi melaksanakan kegiatan pertemuan Aisyiyah Antar Cabang Se-Kabupaten Banyuwangi di Masjid Baitunna'im Tegaldlimo Banyuwangi, Ahad (26/06/2022).


Pimpinan Daerah Aisyiyah Banyuwangi, Ibu Rita Dwi Deritaningtyas, Dip. KMD menugaskan kepada Majelis Tabligh PDA Banyuwangi untuk menyampaikan materi tentang pernikahan sirri.


Team Majelis Tabligh mengambil tema: Permasalahan Nikah Sirri Dalam Perspektif Perlindungan Perempuan Dan Anak Menurut Hukum Positif. Materi tersebut disampaikan dalam bentuk power point agar jama'ah mudah untuk memahaminya.


Ta'rif/Pengertian Nikah Sirri


Pemateri dari team Majelis Tabligh PDA Banyuwangi mengutip pendapat dari Ibnu Taimiyah dalam menyampaikan definisi nikah Sirri.  Menurut pendapat Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Ahkamu Al-zawaj mendefinisikan nikah Sirri adalah nikah yang atas pesan suami, para saksi merahasiakan untuk isterinya atau jamaahnya, sekalipun keluarga setempat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pernikahan sirri hukumnya bathil atau tidak sah.


Sedangkan pengertian nikah sirri menurut pandangan ulama fiqh, nikah Sirri terbagi menjadi dua: Pertama, dilangsungkannya pernikahan suami istri tanpa kehadiran wali dan saksi-saksi, atau dihadiri wali tanpa saksi-saksi. Kemudian pihak yang hadir menyepakati untuk menyembunyikan pernikahan tersebut. Kedua, pernikahan terlaksana dengan syarat-syarat dan rukun-rukun yang terpenuhi, seperti ijab, Qabul, wali, dan saksi-saksi. Akan tetapi mereka satu kata untuk merahasiakan pernikahan ini dari telinga masyarakat.


Dalil Larangan Nikah Sirri


"Apabila pemerintah memandang adanya Undang-Undang keharusan tercatatnya akad pernikahan, maka itu adalah undang-undang yang sah dan wajib bagi rakyat untuk mematuhinya dan tidak melanggarnya", tegas pemateri.


Hal tersebut sesuai dengan QS. An-Nisa ayat 59:

ياايها الذين امنوا اطيعوا الله واطيعوا الرسول واولي الأمر منكم.

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RosulNya (Muhammad) dan Ulil 'Amri (Pemegang Kekuasaan) diantara kamu".


Pencatatan perkawinan menjadi suatu keharusan yang dilakukan karena membawa kemaslahatan yang lebih besar bagi umat Islam. Dalam kaidah Fiqh:

جلب المصالح ودرء المفاسد

" Menarik kemaslahatan dan menolak kemudharatan". 

Ulama Ushul fiqh mengklaim bahwa apabila ada aturan hukum yang dibuat manusia nyata kemaslahatannya dan tidak bertentangan dengan Nash (Al-Qur'an), ia dapat disebut bagian dari hukum itu sendiri.


Sikap Aisyiyah Tentang Pernikahan Sirri


"Aisyiyah menganggap dan menyatakan bahwa nikah sirri hukumnya tidak sah karena tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad saw", jelas pemateri

Pemateri menyampaikan materi dengan memanfaatkan media power point.


Aisyiyah juga merujuk pada empat madzhab, yaitu: 1. Madzhab Syafi'i, berpendapat bahwa nikah sirri hukumnya Tidak sah karena nikah sirri disinyalir akan mampu mengundang fitnah baik dari sisi laki-laki maupun perempuan. 2.  Madzhab Maliki, berpendapat nikah sirri tidak sah, maka pernikahan ini bisa dibatalkan. Jika keduanya telah melakukan hubungan badan, maka pelaku mendapatkan hukuman rajam dengan diakui empat orang saksi. 3.  Madzhab Hanafi, tidak membolehkan nikah sirri atau nikah sembunyi-sembunyi tanpa wali. 4. Madzhab Hambali berpendapat bahwa nikah sirri sah menurut syariat agama jika memenuhi rukun nikah, namun hukumnya makruh.


Apakah Madharatnya Nokah Sirri?


Pemateri memaparkan bahwa nikah sirri bisa menimbulkan fitnah atau ghibah di masyarakat. Pernikahan yang dilakukan secara diam-diam tanpa dicatat di KUA, maka tidak mendapatkan perlindungan secara hukum. Nantinya jika terjadi sesuatu hal yang merugikan salah satu pihak, maka ia tidak dapat melakukan penuntutan.


Pernikahan sirri merugikan pihak anak. Seorang anak yang lahir dari pernikahan sirri, maka statusnya tidak jelas secara hukum. S bagaimana dijelaskan dalam Undang-undang No 1 Tahun 1974 tentang *Pernikahan* pasal 42 ayat 1: "Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah". Bahkan dalam mengurus administrasi negara juga akan kesulitan. Misalnya:  Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), Akta Kelahiran, dan lain-lain.


Kesimpulan Dari Hukum Nikah Sirri


Di akhir paparan, pemateri menyimpulkan bahwa nikah sirri dilarang dan tidak sah menurut hukum Islam, karena ada unsur Sirri (dirahasiakan nikahnya) yang bertentangan dengan ajaran Islam dan bisa mengundang fitnah, serta dapat mendatangkan madharat/resiko berat bagi palakunya dan keluarganya. Nikah siri juga tidak sah menurut hukum positif, karena tidak melaksanakan ketentuan hukum munahakat yang baku dan benar, dan tidak pula diadakan pencatatan nikahnya di Kantor Urusan Agama (KUA).


Penulis : Suharni - peserta Bimtek LDK / PDA kab. Banyuwangi.

Editor : Muhaimin

Lensa_ldkpwmjatim







Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.