SARASEHAN CEGAH RADIKAL

Lensadakwah.com - Komunitas Seni dan Budaya selenggarakan kegiatan Sarasehan Budaya dengan mengambil tema Radikalisasi dan Mecegah Intoleransi. Minggu 29 Juni 2022.



Dalam acara tersebut nampak hadir beberapa peserta dari komunitas, diantaranya:

1. Paguyuban Pelestari Budaya Aksara Jawa.
2. Gelang Nusantara
3. IGSN.
4. NU SAS
5. Komunitas Sejarah Nusantara
6. Singo Lawu
7. Komunitas Indigo dan Telepati Surabaya.
8. Purnama.
9. Mitra Sejati
10. Paguyuban Gunung Pegat .
11.padepokan Nur Langit
12.Padepokan Gubug Alit 
17.Rumah Bhineka
18.Pondok Kasih


Acara diawali dengan doa bersama lintas agama kemudian dilanjutkan sambutan panitia.
Acara yang digelar sangat sederhana diruang terbuka disebuah Cafe Bicopi Gunung Anyar tepatnya di Jalan Ir. Sukarno No. 678 tersebut menghadirkan beberapa narasumber yang berkompeten dibidang penangan dan kepedulian akan masalah Intoleran-Radikal.

Dalam pantauan lensadakwah.com acara yang direncanakan dimulai pukul 10.00 tersebut sempat molor dan baru bisa dimulai pukul 11.15 dan berakhir pukul 14.30.



Narasumber utama pada acara Sarasehan tersebut adalah dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan hadir juga narasumber pendamping dari KODIM, Komnas Pendidikan dan juga dari DPRD Jawa Timur.

Dalam paparannya dari BNPT yang diwakili oleh Kabid Agama Sosial dan Budaya FKPT Jawa Timur Muchamad Arifin menyampaikan alur munculnya Intoleran-Radikalisme-Aksi Teror hingga Terorisme.

Munculnya permasalahan intoleran- radikat yang kalau dibiarkan bisa menjadi gerakan teroris ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Oleh karena itu BNPT mengucapkan terimakasih atas terselenggaranya acara ini, mudah-mudahan dapat meminimalisir gerakan radikal yang cukup membahayakan bagi ketentraman hidup berbangsa, bernegara dan beragama.

Selanjutnya Kabid Agama Sosbud FKPT Jatim yang mengantongi dua sertifikat dari Musium Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas kepeloporannya sebagai penggerak di acara Lomba Guru Pelopor Moderasi Beragama dan Louncing 1000 Dai Agen Perdamaian ini menjelaskan tentang Bhineka Tunggal Ika yang tertulis dalam pita yang dicengkram oleh kaki burung garuda.

Kita hidup di Negara yang kaya akan keanekaragaman budaya, suku, ras, adat istiadat dan agama. Oleh karena itu kita harus siap menerima perbedaan dan siap bersedia menghargainya. 

Selanjutnya Kabid Agama yang sering dipanggil ustad Arifin ini memberikan contoh beberapa negara yang selalu dilanda konflik karena masyarakatnya tidak siap hidup dalam perbedaan dan tidak bisa saling menghargai perbedaan.

Kita bersyukur hidup di Indonesia meskipun banyak berbedaan tetapi tetap utuh karena masyarakatnya sadar pentingnya saling menghargai dalam perbedaan.

Acara diakhiri dengan menyanyika lagu Saling Menghargai Perbedaan dengan diiringi tepuk tangan menjadikan suasana semakin akrab satu dengan yang lain meskipun keringat bercucuran karena panasnya matahari. 

lensa_fkptjatim




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.