MENELADANI BAPA'E PARA NABI

Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)


Ustad Muchamad Arifin

Lensadakwah.com - Nikmat yang telah Allah swt berikan kepada hambaNya tidak terhitung dan tidak akan pernah mampu menghitung karena banyaknya. Inilah yang disampaikan Ketua Lembaga Dakwah Khusus (LDK) Muhammadiyah Jawa Timur ustad Muchamad Arifin di depan jamaah Shalat Idul Adha 1443 H. Di Jalan Ir. Sukarno 87 (Merr) Surabaya. 

Ketua LDK Muhammadiyah Jatim yang sering dipanggil ustad Arifin menyampaikan bahwa; Dari nikmat Allah yang banyak ini kita dimintak untuk mensyukurinya dengan cara mendekatkan diri kepadaNya. Dan sebaik-baik cara mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan mendirikan Shalat dan berkurban.

Salah satu bentuk bersyukur adalah dengan mendikirikan shalat dan berkurban. Sebagaimana difirmankanNya:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. QS. Al Kautsar: 1-3


Foto saat khutbah berlangsung

Kenapa Allah memintak mendirikan Shalat setelah memberikan nikmat, karena Shalat merupakan ibadah yang paling fundamental dalam Islam. Shalat bukan sekadar kewajiban bagi setiap Muslim, tetapi merupakan kebutuhan manusia secara spritual. 

Shalat juga merupakan media untuk ber-taqarub kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalat yang diawali dengan gerakan takbiratul ihran (Mengangkat kedua tangan) merupakan bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Shalat juga merupakan cara untuk menggapai kemenangan dan keberuntungan di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana firmanNya:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya. QS. Al Mukminun: 1-2

Selain shalat setelah mendapatkan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala,  maka jangan lupa menyisihkan atau berkurban dijalanNya.

Kurban mengandung makna sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana Nabi Ibrahim mengorbankan anaknya untuk patuh pada perintah Allah.

Makna lain dari kurban adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan merelakan, melepaskan apa yang dipunyai seseorang untuk dipersembahkan kepada Sang Khalik

Selanjutnya ustad Arifin menjelaskan ayat yang digunakan dasar untuk melaksanakan kurban.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” QS. As-Saffat: 102

Dalam pantauan lensadakwah.com ketika khotib menceritakankan kisah proses penyembelihan Ismail oleh Nabi Ibrahim, maka suasana menjadi hening seketika bahkan sebagaian meneteskan air mata karena haru akan cerita tersebut.


Foto bersama panitia shalat Idul Adha

Kisah lainnya yang disampaikan oleh ustad Arifin dalam khutbahnya adalah proses mempertahankan ketauhidan sehingga harus menerima eksekusi mati dengan cara dibakar hidup oleh raja namrud semakin memjadikan suasana jamaah penuh haru.

Di akhir khutbahnya disampaikan pesan begitu pentingnya bagi kita semua meneladani keluarga Nabiullah Ibrahim Alaihissalam.

Sebagai bapak mari kita teladani Nabi Ibrahim, sebagai Ibu mari kita teladani Hajar istri Nabiullah Ibrahim dan sebagai anak mari kita teladani Ismail putra Nabiullah Ibrahim Alaihissalam.

Sumber: PRM Mulyorejo Surabaya

Lensa_ldkpwmjatim


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.