ANAK JALANAN DALAM PERJUANGAN UNTUK HIDUP

Lensadakwah.com - Rencana Tindak Lanjut Darul Arqom Dasar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) PK BLUE SAVANT Kelompok 3 Dengan target anak jalanan. 

Tulisan ini hanya curahan saya sebagai individu yang hidup ditengah-tengah masyarakat dan mencoba memberikan pendapat atas apa yang telah individu tersebut rasakan. Siang itu aku melihat dirinya ditengah–tengah para pekerja yang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang memperhatikannya, namun banyak pula yang tidak menghiraukan keberadaannya. Tangannya memetik sebuah kentrung (gitar kecil). 

Putra saat sedang memainkan kentrung berharap rezeki dari pengendara.

Dengan niat para penumpang mikrolet akan mengasihi duit recehan padanya. Begitulah, anak jalanan. Kehidupannya tergantung dari belas kasihan orang yang melihatnya. Tidak jarang mereka mendapatkan kekerasan dari pihak-pihak yang memanfaatkan keluguan mereka. Tidak wajarlah jika dalam beberapa hari yang lalu kita mendengarkan kabar bahwa anak-anak telah terbiasa merokok sejak kecil, terbiasa mendapatkan kekerasan, terbiasa dan terbiasa lainnya yang tentu saja tidak sepantasnya mereka dapatkan.                                                          

Foto ini aku ambil saat aku naik motor pada saat lampu merah di jalan Kalianak Surabaya. Masih dalam pandanganku, bahwa anak jalanan tersebut menghitung uang yang ia dapatkan dengan susah payah di sebuah toko sebrang jalan. Ku dekati dia dan mengajak ngobrol dengan anak tersebut, dia adalah Putra Wijaya yang berusia 15 tahun, alasan Putra mengamen karena dia harus membantu adiknya yang masih sekolah SD. 

Putra rela untuk tidak berangkat sekolah sejak tahun 2021 kemarin, karena harus mencari uang recehan demi adiknya bisa sekolah dan sedikit membantu ibunya yang sedang sakit untuk membeli obat, ayahnya bekerja sebagai pencari barang rongsokan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada diri mereka. 

Mereka hanya tahu bekerja untuk dapat bertahan hidup. Dan saya hanya bisa memberi sedikit bantuan peralatan tulis untuk adiknya, dan memberi sembako kepada orangtuanya. Terkadang mereka menangis dalam hatinya. Mereka tidak ingin hidup dalam keadaan seperti ini. Mereka hidup dari mengamen, mengais sampah, dan lain sebagainya. Mereka bekerja hampir setiap hari, suka tidak suka, mau tidak mau mereka wajib melakukan pekerjaan ini. 

Anak-anak adalah calon penerus bangsa, merekalah pewaris Negara besar ini di masa depan. Begitulah yang terpikir dalam benakku, sesaat aku ingin melupakan masalah-masalah sosial yang sangat banyak di Bangsa ini. Namun, aku sendiri tidak tega melihat mereka bekerja seperti itu. 

Jikalah Muhammadiyah memulai gerakan kemanusian yang dicontohkan oleh seorang Dahlan dengan memberikan santunan makanan kepada orang-orang yang tidak mampu (fakir-miskin), baik dengan makanan secara langsung. Dilanjutkan dengan kajian QS. Al Ma’un yang lebih dikenal dengan teologi Al Ma’un yang menjadikan ciri dari gerakan Muhammadiyah yaitu gerakan sosial. 

Pada akhirnya, jika IMM sebagai organisasi gerakan mahasiswa hanya berhenti pada tataran diskusi saja, saya kira IMM tidak ada ubahnya seperti bunyi petir disiang hari tanpa menurunkan hujan, suaranya keras mengagetkan namun tidak mampu menghadirkan kehidupan isi dunia sehingga yang terjadi penyesalan atas gelegarnya suara petir. Ketika IMM dengan kualitas dan kuantitas kadernya berhenti hanya pada nalar-nalar diskusi dan tidak ada nalar praksi gerakan, maka IMM tidak ada ubahnya seperti orang yang bertemu tapi tidak berjumpa, kosong hampa dan omong belaka. 

Hari ini IMM harus melakukan usaha dan gerakan-gerakan kecil yang dapat mewarnai serta menyelesaikan persoalan kemanusiaan dengan pendekatan dan gaya mahasiswa sebagai kaum-kaum intelektual idealis yang di bingkai dengan kematangan religius dan kayanya jiwa humanis. IMM JAYA.


#DADPKIMMBLUESAVANT

#KITATIDAKMUNGKINDIAM

#IMMUMSURABAYA

#PKIMMBLUESAVANT


Penulis : Tsalsa Masita

Editor : Muhaimin

Lensa_ ldkpwmjatim




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.