DAKWAH KOMUNITAS DI METROPOLITAN

Lensadakwah.com - Surabaya merupakan ibukota Provinsi Jawa Timur. Surabaya juga menyandang predikat kota metropolitan, sekaligus menjadi kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Maka tidak heran banyak migran berdatangan disana.

Duta LDK Tuban 
di Bimtek Dai Komunitas 

Ibarat kolam besar yang menyimpan banyak ikan. Kota Surabaya menarik minat pemancing, dalam hal ini kaum urban/migran adalah pemancing yang berminat mengambil ikan. Ikan yang dimaksud disini yakni dampak dari segi ekonomi karena perkembangan kota yang pesat.

Dalam Bimbingan Teknis (bimtek) da’i komunitas yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Jawa Timur (PWM Jatim), anggota Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jatim memaparkan sisi lain Surabaya. Diantara gemerlap kota Surabaya menyimpan banyak permasalahan sosial.

Fenomena anak jalanan di sekitar Ampel, mayoritas mereka bekerja sebagai pengemis, pengamen. Mirisnya, mereka terdiri dari anak-anak. Bahkan anak-anak tersebut tidak sekolah dan tulang punggung keluarga. Jika normalnya anak-anak seusia mereka sedang asik bermain, anak-anak Ampel tersebut bekerja untuk diri mereka dan keluarga. Orangtua tidak bekerja untuk anak, tetapi anaklah penopang keluarga. Da’i komunitas dari LDK PWM Jatim dan daerah kota Surabaya hadir mencari solusi. Para Da’i tersebut mengajarkan anak-anak bermain musik angklung dan berkesenian.  

Tidak hanya itu, adanya anak pekerja makam juga menambah sisi gelap Kota. Anak-anak itu pun tidak sekolah. Mereka bekerja membersihkan makam, penjaga parker, asongan, pengamen dan meminta belas kasihan pengunjung yang hendak ziarah kubur. Direktur rumah singgah LDK PWM Jatim, Warsono, S.E., dalam Bimtek (27/8/22) menambahkan bahwa Pengamen dan anak jalanan tidak akan habis. Mengandalkan rasa iba dan jiwa sosial masyarakat. Namun tidak menyurutkan semangat pengurus LDK PWM Jatim untuk mengentaskan anak-anak tersebut dari eksploitasi pekerja anak. Selain itu  LDK PWM Jatim juga mendampingi mereka untuk mengejar paket A dan belajar calistung sebagai bekal masa depan.

Dimana ada kantong kemiskinan disitu ada misionaris. Hal itulah yang terjadi di kampung 1001 malam. Kampung ini berdiri di bawah tol Dupak-Gresik, konon telah ada sejak tahun 1999. Namun, karena masifnya gerak misionaris disana maka akses LDK menjadi terhambat. Meskipun sebagian besar dari 250 KK penduduk komunitas bawah tol ber-KTP Islam, tapi aktivitas mereka dekat dengan ibadah umat Kristiani. Bahkan disana telah berdiri lima buah gereja. Puji syukur Allah, pada 2020, PWM menggandeng PWA mendapat akses untuk mendirikan sebuah mushola disana. 

Perlahan tapi pasti, penduduk kampung 1001 malam mulai membuka diri dengan aktivitas LDK PWM Jatim. Anak-anak mulai belajar sholat dan mengaji, ibu-ibu pun bergabung dalam majelis taklim. Masalah muncul saat ada kelahiran dan kematian. Ketika salah satu diantara mereka mati, KTP Islam namun pihak gereja merasa sudah membaptis mereka. Sehingga konflik dan gesekan “berebut umat” tak bisa dihindari.

Dalam Bimtek kali ini, terakhir pak Warsono menambahkan bahwa dakwah komunitas butuh sinergi. Sehingga apapun yang menjadi halangan dalam menjalankan roda dakwah dapat teratasi.

Lensa_ldkpwmjatim


Penulis: 

RR. Immamul Muttakhidah

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.