MENGHINDARI SYUBHAT

Lensadakwah.com - Kajian Rabu ba'da shubuh di Masjid At-Taqwa Pogot Surabaya pada Rabu, 10 Agustus 2022 yang diasuh oleh ustad Nurcholis Huda menyampaikan materi seputar syubhat dalam Islam.
Ustad Nurcholis Huda

Dalam Islam ada halal, ada haram dan ada syubhat. Inilah yang disampaikan ustad Nurcholis Huda didepan para jamaah dalam muqaddimahnya.

Dalam penjekasannya disampaikan bahwa halal itu boleh dilakukan dan dan bernilai baik. Sedangkan haram itu dilarang dilakukan dan bernilai buruk,  sedang kan syubhar ada diantara keduanya, yaitu antara halal dan haram.

Lanjut ustad Nurcholis menjelaskan, bahwa biasanya orang yang melakukan syubhat itu karena kurangnya informasi yang jelas. Hal itu nisa karena keterbatasan pengetahuan atau bisa jadi sengaja menikmati syubhat karena merasa diuntungkan.

Salah satu contoh dari syubhat itu seperti seorang yang mendapatkan dari pembohong guna melancarkan urusan. Biasanya pemberi mengatakan ini hadiah bukan suap.  Tetapi jika ketahuan KPK maka ini dianggap grativikasi. Haram.

Banyak hal terkait dengan syubhat. Misalnya ketika jelang pemilu ada serangan fajar. Masyarakat diberi uang oleh tim sukses. Mereka mengatakan ini sedekah dari calek atau istilah lain sedkah pemilu. 

Maka jangan lakukan sesuatu yang meragukan hatimu atau kamu tidak cukup memgerti tentang persoalan itu. Pesan ustad Nurcholis pada jamaah. Mari kita perhatikan ayat dibawah ini:

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. QS. An Nur: 15


Dikisahkan bahwa Aisyah pernah dituduh oleh orang-orang munafik berselingkuh dengan Shafwan bin al-Mu'aththal as-Sullami adz-Dzakwani. Saat itu orang Mukmin yang munafik mengatakan Aisyah dan Shafwan pulang berdua. Shafwan adalah sosok idola di Madinah karena ia seorang yang saleh dan sangat menjaga kehormatan dirinya.

Saat hendak pulang dari Perang Muraisi, Aisyah tertinggal dari rombongan Rasulullah SAW. Perang itu terjadi pada bulan Sya'ban tahun ke-5 Hijriyah. Dikutip dari buku berjudul Kearifan Al-Qur'an oleh Muhammad Chirzin, saat itu Aisyah tertinggal karena kembali mencari kalungnya yang terputus.

Sementara itu, rombongan yang lain telah siap berangkat kembali. Mereka pun membawa sekedup Aisyah dan memberangkatkanya di atas untanya. Mereka menganggap Aisyah ada di dalamnya.

Setelah menemukan kalungnya, Aisyah kembali ke tempat tadi saat rombongan berhenti. Aisyah berpikir mereka akan kembali mencarinya. Namun, saat Aisyah duduk dan tertidur, Shafwan yang tertinggal di belakang rombongan melihat sosok seseorang dan menghampirinya.

Saat mengenali itu Aisyah, Shafwan pun mengucap bacaan istirja (inna lillahi wa inna ilaihi raji'un). Tanpa sepatah kata, Shafwan pun menginjak kaki depan unta dan menjauh beberapa saat agar ia tidak melihat cara Aisyah menaiki unta. Selama perjalanan, tidak ada satu patah kata pun keluar dari mulut keduanya.

Namun, saat memasuki Madinah, kaum mukminin sendiri yang mengatakan bahwa Aisyah dan Shafwan pulang berdua. Namun, berita kemudian tersebar adalah Aisyah dan Shafwan berselingkuh. Hampir tidak ada seorang pun sahabat yang tidak percaya pada berita bohong tersebut. Bahkan, Rasulullah pun hampir percaya karena yang menyebarkan berita adalah kaum mukmin sendiri, sementara saat itu Aisyah dan Shafwan hanya diam.

Fitnah itu dibuat oleh Abdullah bin Ubayy bin Salul. Sesampai di Madinah, Aisyah sakit selama satu bulan dan tidak mengetahui soal fitnah yang disebar tentangnya. Namun, ia baru mengetahui saat secara tidak sengaja Ummu Misthah menceritakan kepadanya tatkala membimbingnya pergi buang air.

Aisyah kecewa mendengar pertanyaan Nabi SAW, yang meragukan kesetiaannya. Ia tidak berkomentar apa-apa dan hanya mengatakan bahwa ia akan menceritakan kesedihan serta kekecewaannya pada Allah.

Di lain tempat, Abu Salamah berbicara dengan istrinya, Ummu Salamah, soal berita Aisyah. Namun, Salamah menjawab, "Wahai Abu Salama bagaimana jika ada berita saya berselingkuh dan atau jika engkau berselingkuh? Jika saya tidak mungkin, apalagi Aisyah."

Menjawab kesedihan Aisyah, Allah pun berfirman dalam surat an-Nuur. Allah menyatakan bahwa berita itu bohong. Allah juga meminta kaum mukminin untuk memperbaiki diri dan hati-hati terhadap ucapan mereka.

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar." (QS. an-Nuur:11)

Ketika tabir rahasia itu tersingkap, Nabi SAW tertawa gembira. Kalimat pertama yang diucapkan beliau kepada Aisyah adalah, "Wahai Aisyah, pujilah Allah karena Dia telah membebaskanmu dari tuduhan itu." Allah menurunkan wahyu tentang berita bohong atas Aisyah itu dalam Alquran surat an-Nuur ayat 11-19.


Imam An Nawawi memasukkan ayat ini dalam bab syubhat karena ada kesamaan, yaitu mengambil kesimpulan pada sesuatu yang belum jelas.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. QS. Al Isra: 36.
Jangan mudah mengambil kesimpulan tentang apapun kalau kita belum paham betul persoalannya.

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَان بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الَحرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ أَلاَّ وِإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ  رَوَاهُ البُخَارِي وَمُسْلِمٌ


Dari Abu ‘Abdillah An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat–yang masih samar–yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung). (HR. Bukhari dan Muslim)


أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung). HR. Bukhari.


Suasana Kajian Ba'da Shubuh

Hati adalah kunci dari segala perbuatan. Jika hati kotor maka perbuatan kita juga kotor. Penjelajan ustad Nurcholis.

Lanjut ustad Nurcholis yang juga  penasihat takmir Masjis At Taqwa Pogot menyampaikan bahwa hati itu ada tiga macam:

1. Hati yang sehat
Hati yang sehat selalu mudaj menetima kebenaran dan melakukan kebaikan

2. Hati yang sakit
Hati yang sakit sedang menderita macam-macam penyakit hati. Dengki, iri, hasud, sombong, pamrih, bakhil dst.

3. Hati yang mati.
Hati yang mati, yaitu hati yang tertutup dari kebenaran. Allah telah mengunci mati sehingga hidayah tidak lagi bisa masuk. 

Semoga para jamaah yang selalu istiqomah mengikuti kajian ini, juga yang membaca dari tulisan ini termasuk bagian yang memiliki hati sehat, mudah menerima hidayah dari Allah swt.

Sumber : Kajian ustad Nurcholis Huda
Editor    : Muchamad Arifin

lensa_ldkpwmjatim




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.