NABI ISA AS DAN KEMBALIAN YANG TAK HARUS KEMBALI

Lensadakwah.com - Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LDK PWM) Jawa Timur mempunyai gelaran menarik, setelah sebelumnya ‘berpuasa’ kegiatan luring selama kurang lebih dua tahun lamanya. Dengan mengambil tajuk “Bimbingan Teknis Dai Komunitas Regional 5”, acara yang mengundang delapan Kabupaten yang berbeda ini diadakan di hotel Horison Gresik Kota Baru, dengan dukungan penuh dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Gresik berikut amal usahanya. Sabtu-Ahad, (27-28/8/2022). 

Prof Dr Saad Ibrahim MA saat memaparkan materi Bimtek Regional 5

Di hari pertama, Sabtu, (27/8/2022), peserta bimtek langsung menerima materi awal yang sangat berbobot. Dengan tema mengenai Moderasi Beragama, dan disampaikan oleh Prof Dr Saad Ibrahim MA. Materi tersebut disimak secara serius oleh segenap peserta yang hadir. Kyai yang sekaligus ketua PWM Jawa Timur ini mengurai moderasi beragama secara akademis dengan paparan yang panjang, lebar dan mendalam. Dengan sekali-kali diselipi joke segar, disertai pendekatan ilmiah dan contoh terapan ilmiah, terlihat sesekali hadirin mengangguk saat menyimak penjelasan pemateri.

WASATIYAH ITU BUKAN GULUW, BUKAN PULA TAQSIR

Dalam uraiannya, Prof. Saad menjelaskan bahwa Moderasi Beragama -berikut aplikasinya yaitu toleransi- bisa dirujuk semangatnya dari Quran dan Sunah, dengan dua terma; yakni ‘Wasatiyah’ dan ‘Tasamuh’. Ketika mengurai lafal ‘Umatan Wasatan’ dalam salah satu ayat Quran yang beliau sitir, Prof. Saad membeberkan tiga makna ‘wasat’ menurut Imam At-Tabari dalam tafsirnya. 

Makna pertama dari terma ‘wasat’ adalah ‘khiyar’, yang bila diartikan secara bebas, bermakna ‘terbaik’. Maka umat yang wasatiyah adalah kelompok masyarakat yang mengambil posisi unggul, dan berlomba-lomba untuk menjadi unggul. Makna kedua dari ‘wasat’ adalah ‘baina tarfain’, yang secara bahasa diartikan ‘di antara dua ujung’. Dalam arti, umat yang wasatiyah adalah yang selalu mengambil sikap tidak berlebih-lebihan, dan menempatkan diri di tengah. Sedangkan makna ketiga dari ‘wasat’ adalah ‘al-adlu’, dalam arti umat yang wasat adalah kelompok masyarakat yang mencita-citakan keberimbangan dan tegaknya keadilan.

Beliau lalu menyimpulkan, bahwa wasatiyah dalam Islam adalah adalah sebuah ideologi beragama yang berseberangan dengan teologi ‘guluw’ (berlebihan) kaum Nasrani, sehingga mereka menuhankan Nabi Isa AS, sekaligus menolak kelas teologi ‘taqsir’ (mengurangi) kelompok Yahudi, yang dengan beraninya menuduh Nabi Isa AS adalah anak hasil perbuatan zina yang dilakukan oleh Maryam.

TASAMUH BERIKUT TERAPANNYA

Setelah membahas moderasi, beliau melanjutkan dengan membahas toleransi. Pak Saad menyampaikan bahwa toleransi dalam Islam, diwakili dengan istilah ‘tasamuh’, dan berasal dari akar kata ‘as-samhu’. Beliau menyebutkan bahwa Nabi SAW memuji orang yang berdagang dengan baik, dengan menggunakan lafal ‘rajulan samhan’. Bahkan dalam salah satu ayat di Quran, semangat ‘as-samhu’ ini berbentuk pembebasan transaksi atau utang kepada pihak yang lemah.

Dalam tataran praktek, Prof. Saad menceritakan terapan praktis yang kadang beliau lakukan. Beliau menceritakan bahwa suatu ketika saat hendak membeli sesuatu barang, seorang pedagang menyebutkan harga barang tersebut adalah delapan puluh lima ribu rupiah. Usai mengulurkan uang seratus ribu rupiah, si pedagang pun sibuk mencari kembalian. Maka beliau memutuskan untuk tidak meminta kembalian untuk dikembalikan.

MODERASI BERAGAMA ALA MUHAMMADIYAH

Maka bagaimana moderasi beragama menurut Muhammadiyah? Prof. Saad menjelaskan bahwa yang pertama; dalam hal ibadah, Muhammadiyah sangat-sangat salafi, di arti sebenarnya. Dalam arti, Muhammadiyah telah memilih praktek peribadatan merujuk langsung ke masa salafus salih. Yakni masa Nabi Muhammad SAW, masa sahabat dan masa tabiin. 

Prof. Saad mencontohkan, dalam hal tarawih, Muhammadiyah tidak mengambil jumlah dua puluh tiga rakaat, tiga puluh enam rakaat atau tiga puluh sembilan rakaat. Melainkan mengambil jumlah rakaat yang maklum dilakukan pada masa Nabi SAW, yakni sebelas rakaat. Ini berbeda dengan jumlah rakaat tarawih yang dipilih oleh ormas lain, yang merujuk kepada masa khalaf.

Yang kedua; Muhammadiyah tidak menolak sama sekali modernisasi, tidak anti teknologi dan menerima dengan lapang dada kemajuan-kemajuan manusia. Menurut Prof. Saad, Muhammadiyah meyakini bahwa hal-hal tersebut bukanlah hal yang ajeg, sehingga harus diadopsi sebagai faktor pengurai kejumudan umat Islam.

Maka beliau melanjutkan, Muhammadiyah sudah mantap untuk memilih metode hisab hakiki, dan tidak memilih rukyat, dalam hal penentuan awal Bulan Hijriyah. Walaupun telah umum diketahui bahwa hal ini berkaitan erat dengan urusan ubudiyah, seperti puasa Ramadan dan pelaksanaan haji. Sedangkan di beberapa kelompok lain, urusan ubudiyah tidak boleh menerima pendekatan saintifik karena akan merusak nilai ibadahnya.

Dan dalam hal dakwah pun, Muhammadiyah adalah termasuk ormas yang mempelopori penggunaan teknologi informasi secara masif hingga ke akar rumput. Ini dibuktikan dengan tidak berhentinya acara-acara Muhammadiyah dilaksanakan secara rutin melalui zoom meeting, baik di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah, justru ketika pandemi melanda di seantero Nusantara.

Yang ketiga; Muhammadiyah tidak kaku dalam memutuskan hukum yang masih dalam ruangan ijtihad, tapi kaku dalam hal-hal yang bersifat qathi dalalah dan qathi wurud. Prof. Saad mengambil permisalan, dalam hal riba, Muhammadiyah mantap menyatakannya sebagai keharaman. Namun dalam hal bunga bank, Muhammadiyah hanya memilih hukum haram, tapi memberi peluang pendapat minoritas yang menghalalkannya. Karena riba terjadi saat mata uang diikat dengan dinar dan dirham yang tidak mengenal inflasi, sedangkan bunga bank dipraktekkan saat ada konsep inflasi, dan nilai tukar dikaitkan dengan model uang fiat. Pak Saad juga menyatakan, semangat memberi ruang ikhtilaf dalam mazhab fikih, sudah diinisiasi oleh Majelis Tarjih sejak tahun 1930-an. Ini artinya, fikih ala Muhammadiyah tidak berhenti di satu kondisi, selalu memberi peluang pengembangan-pengembangan di masa-masa selanjutnya, senyampang di rasa perlu.

Yang terakhir; Muhammadiyah melakukan moderasi beragama secara kontekstual, dan melakukan radikalisasi beragama secara kontekstual saja. Dalam arti, Muhammadiyah akan melakukan toleransi dalam hal-hal yang masih dalam ruang khilafiyah, namun tidak melakukan toleransi sama sekali dalam ruang yang qathi atau akidah. Ujarnya, sikap radikal tidak perlu dianggap sesuatu yang berbahaya. Justru cara pandang radikal sangat mendesak, terutama dalam urusan-urusan pokok beragama dan ideologi dasar.

Kemudian pak Saad melanjutkan dengan menceritakan bagaimana beliau menegur halus kelompok Nasrani yang berpenampilan muslim, semisal menggunakan songkok ala orang Islam. Beliau menyampaikan kepada mereka bahwa Muhammadiyah tidak dapat menoleransi simbol-simbol kelompok, diselewengkan oleh kelompok-kelompok tertentu, untuk menarik orang untuk tertarik kepada kelompoknya.

Prof. Saad juga sedikit menyinggung tentang tidak perlunya mensikapi berlebihan kelompok-kelompok Salafi. Selama kelompok Salafi tidak mengambil alih amal usaha yang didirikan Muhammadiyah, maka sikap toleransi berlaku. Namun bisa kelompok tersebut sampai dalam tahap merebut dengan cara apapun, maka Muhammadiyah mengambil sikap radikal. Muhammadiyah tidak akan memberi ruang sedikitpun kelompok maupun ormas lain untuk ‘menunggangi’ aset Muhammadiyah untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi mereka.


Penulis : Baabullah MPdI - Ketua LDK PDM Sampang

Editor : Muhaimin

Lensa_ldkpwmjatim


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.